26 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Ali Mazi, SH: Memimpin dengan Pendekatan JITU

Calon Gubernur Sulawesi Tenggara H. Ali Mazi, SH yang berpasangan dengan  Calon Wakil Gubernurnya Dr. H. Lukman Abunawas, M.Si., selalu berapi-api dalam menyampaikan program-program unggulan pada setiap kegiatan kampanye di berbagai daerah wilayah Sultra. Tagline AMAN yang mereka usung bukan saja sebagai akronim nama “Ali Mazi – LukMAN”, tetapi juga sebagai visi mereka dalam mewujudkan Sulawesi Tenggara yang aman, maju, sejahtera dan bermartabat tahun 2023.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pasangan AMAN berkomitmen untuk membangun keAMANan insani pada pilar pendidikan, ekononomi, pangan kesehatan, lingkungan, pribadi, budaya, parawisata, gender dan politik. Komitmen AMAN adalah membangun manusia Sulewesi Tengara yang bermoral dengan menghadirkan model kepemimpinan yang humanis dan birokrasi yang moderen.

Awak Timur Merdeka (TM) penasaran dengan model kepemimpinan yang ditawarkan Bapak H. Ali Mazi, SH sebagai satu-satunya Calon Gubernur yang berasal dari Kepulauan Buton. Ditanya soal model kepemimpinannya, Ali Mazi mengatakan dengan model pendekatan JITU Plus. Apa itu? H. Ali Mazi, lalu mengurai bahwa, “setidaknya ada enam tantangan untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang sukses, saya singkat dengan JITU Plus yaitu Jujur, Ikhlas, Tekun dan Ulet plus: Waktu dan Teknologi”, kata Ali Mazi.

Pertama, pemimpin itu harus Jujur. Salah satu modal dalam menjalankan roda pemerintahan adalah kejujuran. Banyak pemimpin sukses yang selalu mengutamakan kejujuran dibandingkan dengan pemimpin yang hanya ingin meraup keuntungan pribadi, memperkaya diri sendiri dan keluarganya tetapi dengan cara yang tidak jujur. Dengan kejujuran, pemimpin itu akan selalu dicintai oleh pengikutnya, ia akan menjadi contoh bagi pengikutnya atau masyarakatnya.  Begitu pula sebaliknya, jika pemimpin itu tidak jujur, tidak mengindahkan nilai-nilai kejujuran, meski mendapat uang yang banyak, tetapi pelan-pelan akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Ini sepertinya sudah menjadi hukum alam, “seseorang yang tidak jujur dalam memimpin bisanya akan cepat kaya, tetapi juga cepat habis kekayaannya karena harus berurusan dengan aparat penegak hukum”.

Kedua, pemimpin itu harus Ikhlas. Dalam memimpin tentu tujuannya kita adalah sukses dalam mensejahterakan rakyat, menjadi orang yang dihormati atau masih banyak lagi tujuan lain yang intinya adalah kesukssesan di dunia. Dan jika kita tidak mendapatkan semuanya, bagaimana perasaan kita? Mungkin kita akan merasa kecewa sehingga kita mungkin akan melakukan segala cara untuk mendapatkan segalanya tanpa harus peduli dengan yang halal atau yang haram, ataukah mungkin kita akan menyalahkan Tuhan karena menganggap Tuhan tidak adil terhadap diri kita? Jadi menjadi pemimpin itu harus meluruskan niat kita ikhlas karena Allah, sehingga apapun hasil yang kita peroleh, kita akan selalu ikhlas menerimanya. Dan Allah tidak akan menerima amalan seseorang yang niatnya tidak ikhlas karena Allah, kata Ali Mazi.

Ketiga adalah Tekun. Ketekunan itu mengabaikan sikap putus asa dalam diri. Pemimpin harus menyadari bahwa dalam memimpin kadang ada saja rintangan dan masalah yang dihadapi dalam masyarakat. Tetapi rintangan dan masalah yang ada itu harus kita hadapi dengan berbagai konsekuensinya. Dengan ketekunan kita dalam menghadapi berbagai rintangan ini yang akan mengantarkan kita untuk menggapai impian dan tujuan kita sebagai pemimpin.

Keempat adalah Ulet. Mengapa harus Ulet? Ulet adalah sikap pantang menyerah yang diiringi dengan kemauan serta usaha keras demi terwujudnya tujuan dan cita-cita. Seorang pemimpin pemerintahan harus ulet dalam menjalankan roda pemerintahan, harus menguasai banyak pengetahuan dan keterampilan karena menghadapi birokrasi dan masyarakat dari latar belakang yang berbeda-beda. Seorang pemimpin itu tidak boleh banyak mengeluh tetapi harus ulet, harus melakukan perubahan-perubahan dan inovasi agar masyarakat yang dipimpinnya semakin maju dan sejahtera.

Kelima adalah Waktu. Pemimpin itu harus dapat mengelola waktu dengan baik. Seorang pemimpin harus dapat menyediakan waktunya untuk masyarakatnya, bahkan dia tidak boleh tidur sebelum rakyatnya tidur, kata Ali Mazi. Pemimpin itu harus turun ke masyarakat untuk melihat bagaimana keadaan masyarakatnya di lapangan, apakah mereka sudah cukup AMAN pendidikannya, pangannya, papannya, kesehatannya dan lain-lain.

Dan yang keenam adalah Teknologi. Seorang pemimpin harus menguasai teknologi dan informasi. Sekarang ini kita hidup di era digital dan aplikasi teknologi, termasuk dalam menjalankan pemerintahan. Masyarakat membutuhkan akses informasi yang cepat dan tepat misalnya tentang harga pupuk, produk pertanian, untuk mencari pekerjaan maupun untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Begitu pula pemerintah,  harus dapat mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakatnya di berbagai pelosok. Untuk itu, seorang pemimpin harus dapat menyediakan akses berbagai informasi ini secara cepat dan tepat kepada masyarakat melalui teknologi informasi, kata Ali Mazi.

Akhirnya, H. Ali Mazi, SH mengharapkan dukungan dari doa dari seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara agar Pasangan AMAN Nomor Urut 1 deberi amanah untuk memimpin Sulawesi Tenggara periode 2018-2023. (Run)

%d blogger menyukai ini: