28 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Startup Terus Bakar Uang, Waspadai Bubble Ekonomi

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Kurniasih Budi


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Fenomena start up dan pekerja kreatif menjadi potensi bisnis baru, terutama di sektor properti small office home office atau Soho.

KOMPAS.com – Perusahaan rintisan atau startup memiliki celah kegagalan cukup besar dan berpotensi menimbulkan gelembung (bubble) ekonomi.

Start-up pada umumnya masih dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Adapun sebagian besar startup berbisnis di industri digital.

“Dalam pandangan saya fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis startup ini mulai muncul. Tinggal tunggu gelembungnya meletus,” kata Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC), Frans Meroga Panggabean, dalam pernyataan tertulis, Selasa (26/11/2019).

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, Frans Meroga Panggabean

Sebelumnya, perusahaan rintisan sewa properti WeWork, memangkas 2.400 karyawannya guna memotong biaya dan pengeluaran perusahaan yang cukup besar.

Setelah memecat sejumlah karyawan, WeWork berupaya untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan memfokuskan kembali pada bisnis inti perusahaan.

Pengurangan pekerja mewakili 19 persen dari total tenaga kerja WeWork yang berjumlah 12.500 karyawan per 30 Juni 2019 dilansir CNBC, Jumat (22/11/2019) lalu.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, WeWork

New York Times melansir, tidak kurang dari 1,25 miliar dollar AS adalah kerugian yang diderita WeWork, startup decacorn yang berbasis di New York itu.

Nilai valuasi perusahaan rintisan tersebut yang semula mencapai 50 miliar dollar AS merosot menjadi hanya kurang dari 5 miliar dollar AS.

Tak hanya itu, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan merugi sampai Rp 100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Frans menyebutkan bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era industri 4.0 mulai berjatuhan satu demi satu.

“Bahkan Forbes pernah merilis angka kegagalan dalam bisnis startup itu mencapai 90 persen,” ujar dia.

Dalam riset GORC, ia melanjutkan, gejala latah bisnis digital ini hampir sama seperti yang terjadi pada 2000.

Saat itu, banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan berakhir gagal tanpa nilai sama sekali.

“Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75 persen,” ujarnya.

Strategi jitu

Frans menilai bisnis startup tidak mempunyai modal sosial yang kuat dalam ekosistem bisnisnya.

Strategi bakar uang akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon.

“Itu akan selalu menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya jika sebuah startup baru berusaha masuk dalam suatu pasar,” ujarnya.

Menurut Frans, strategi yang benar seharusnya bangun modal sosial yang kuat terlebih dahulu dalam sebuah ekosistem, dengan melibatkan semua stakeholder untuk berkomitmen membesarkan usaha yang ada untuk kesejahteraan bersama.

Ia berpendapat, dukungan aplikasi digital hanyalah sebagai enabler dan akselerator setelah modal sosial tertanam dengan kuat antar semua pemangku kepentingan.

“Jangan terbalik, seharusnya aplikasi digital baru dipakai sebagai kemasan untuk membantu dan mempercepat pencapaian tujuan usaha setelah hubungan antar semua peran dalam rantai pasok sudah terjalin dengan solid,” ucap dia.

Badan usaha ideal

Bagi Frans, koperasi merupakan jenis badan usaha yang tepat untuk menaungi bisnis generasi milenial saat ini.

“Dengan prinsip bahwa koperasi adalah kumpulan orang, akan sangat berbeda dengan prinsip korporasi yang menganut kumpulan modal,” kata dia.

Dalam koperasi berlaku prinsip one man one vote, bukan one share one vote seperti korporasi.

Kaidah itu, ia melanjutkan, akan selalu mempererat hubungan antar anggota dan selalu membudayakan musyawarah untuk mufakat yang pastinya otomatis memperkuat modal sosial dalam ekosistem usaha yang digeluti.

“Lagi pula dengan sifat-sifat kesetaraan dan egaliter serta ekonomi berbagi yang selalu dikedepankan koperasi, cocok sekali dengan generasi muda sekarang. Itu kan milenial banget,” ujar Frans.

Menurut dia, Peraturan Pemerintah (PP) No. 33 Tahun 1998 tentang modal penyertaan dalam koperasi sangat fleksibel mendukung milenial.

“Apabila bisnis startup berbentuk koperasi tetap dapat lincah, dan tangkas untuk mengakses modal,” katanya.


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi peluang bisnis digital.

Menurut dia, modal dari para investor akan dapat diakses tanpa harus khawatir akan mendelusi keberadaan para pendiri.

Di sisi lain, badan hukum koperasi juga menjamin tata kelola yang lebih setara antara satu dengan beberapa pendiri lainnya.

Pengambilan keputusan didorong melalui mekanisme musyawarah mufakat. Bila harus voting sekalipun, imbuh dia, jumlah saham tak akan menjadi pertimbangan.

“Kami mendorong pemerintah dengan dimotori Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengkampanyekan gerakan nasional agar semua masyarakat, termasuk generasi milenial mengenal dan familiar dengan koperasi,” tutur Frans yang juga Ketua DPP Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia (Askopindo).

Koperasi untuk rakyat

Frans mengatakan, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengajak masyarakat untuk berkoperasi. Adapun gerakan itu dinamai “Berkoperasi Itu Keren”.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, Teten Masduki

Melalui gerakan nasional tersebut, kata dia, pemerintah berharap generasi milenial memahami koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) merupakan tulang punggung ekonomi bangsa, sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945.

Tak cuma itu, ia melanjutkan, koperasi telah beberapa kali terbukti menjadi pilar penyelamat menghadapi krisis multi dimensi yang menerpa Indonesia.

“Kurang keren bagaimana lagi kalau semua perusahaan rintisan digital berbentuk koperasi. Pertama, dengan tata kelola musyawarah untuk mufakat akan memastikan modal sosial akan lebih solid terbentuk,” ujar Frans.

Kedua, koperasi dimungkinkan untuk mengakses permodalan dengan mekanisme modal penyertaan atau dapat mengakses pembiayaan dengan menerbitkan Surat Utang Koperasi (SUK) sesuai regulasi.

Dengan prinsip one man one vote, ia menambahkan, para pendiri tidak perlu khawatir usahanya akan dicaplok pemodal besar.

“Kami juga mendorong segera dirumuskan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Pak Teten sebagai Menkop, Pak Tito sebagai Mendagri, serta Pak Halim sebagai Menteri Desa untuk memastikan gerakan nasional ini berhasil sesuai dengan harapan,” katanya

%d blogger menyukai ini: