24 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menilik Latar Belakang Pendidikan 7 Staf Khusus Milenial Jokowi…

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Sari Hardiyanto


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Presiden Joko Widodo (keempat kiri) bersama staf khusus yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia dan Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Maruf ketika diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). Ketujuh stafsus milenial tersebut mendapat tugas untuk memberi gagasan serta mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A./nz

KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan 7 orang dari kalangan milenial sebagai staf khususnya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Perkenalan 7 staf khusus yang merupakan bagian dari 13 staf khusus Presiden tersebut nantinya akan bertugas untuk membantu kerja-kerja Kepala Negara.

Dalam sesi perkenalan tersebut, Jokowi berharap keberadaan para milenial di jajaran staf khusus Presiden tersebut dapat memberi masukan segar demi kemajuan bangsa dan negara.

Menurut Jokowi, ketujuh para milenial tersebut selain memiliki prestasi di bidangnya masing-masing, juga mempunyai latar belakang pendidikan lulusan universitas ternama baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Berikut ini latar belakang pendidikan ketujuh orang staf khusus presiden yang baru:

1. Putri Indahsari Tanjung

Putri Indahsari Tanjung merupakan anak pengusaha Chairul Tanjung.

Putri merupakan sosok staf kusus presiden dari kalangan milenial yang paling muda.

Founder dan CEO Creativepreneur dari Chief businese of Creative ini usianya masih 23 tahun.

Menilik dari akun Linkedlin-nya, Putri pernah menempuh pendidikan di Anglo Chinese School Jakarta pada tahun 2006-2011.

Ia juga melanjutkan pendidikan di Australian Internasional School Singapore tahun 2012-2014 dan Academy of Art University jurusan multimedia tahun 2015-2019.

2. Adamas Belva Syah Devara

Belva merupakan Hief Executive Officer sekaligus Co-Founder perusahaan rintisan dan aplikasi Ruangguru.

Belva merupakan salah satu dari 30 pengusaha muda berusia 30 tahun yang paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.

Sosok Belva pada 2007 pernah mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Singapura untuk mengenyam pendidikan di Nanyang Technological University.

Ia menempuh pendidikan di Nanyang dan mendapatkan gelar ganda di bidang bisnis dan ilmu komputer.

Selama di Nanyang, ia pernah masuk ke dalam Double Deans List sebagai salah satu dari 5 persen mahasiswa berprestasi tinggi selama 3 tahun.

Selain itu, ia pernah menyabet tiga medali emas yakni:

  1. Lee Kuan Yew Gold Medal yang merupakan penghargaan paling bergengsi di level universitas karena selalu mendapat peringkat pertama di bidang akademik selama mengenyam pendidikan.
  2. Infocomm Development Authority of Singapore Gold Medal yakni penghargaan bagi mahasiswa dengan IPK tertinggi di bidang ilmu komputer.
  3. Accenture Gold Medal yang merupakan penghargaan tertinggi bagi peraih IPK tertinggi di bidang bisnis.

Pada 2013, Belva melanjutkan pendidikan master dengan mengambil gelar double degree di Stanford University.

Di sana ia mengambil gelar master administrasi bisnis.

Sedangkan di Harvard University ia mendapat gelar master administrasi publik.

Belva juga pernah tercatat sebagai mahasiswa tamu di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Harvard Law School, Harvard Graduate School of Education, dan Harvard Medical School.

3. Ayu Kartika Dewi

Ayu merupakan staf presiden yang selama ini aktif mengkampanyekan nilai toleransi dan keberagaman.

Tahun 2010 Ayu pernah mengabdi di lembaga Indonesia Mengajar dan mendapat tugas mengabdi di Desa Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Disanalah ia kemudian tergerak untuk meningkatkan perhatiannya pada isu toleransi dan keberagaman.

Ayu pernah mengikuti pertukaran pelajaran di Singapore Management University pada 2004.

Ia juga menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga tahun 2000-2005 dan lulus dengan status cumlaude.

Ia selanjutnnya melanjutkan pendidikan di Duke University dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA).

4. Angkie Yudistia

Angkie merupakan satu-satunya staf presiden yang menyandang disabilitias.

Wanita berusia 32 tahun ini kehilangan pendengarannya sejak usia 10 tahun.

Ia merupakan lulusan SMAN 2 Bogor. Selanjutnya ia melanjutkan kuliahnya di London School of Publik Relations Jakarta. Serta mendapatkan gelar Master di bidang Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi yang sama.

Meski demikian, ia merupakan sosok yang berprestasi.

Tahun 2008 ia pernah didapuk sebagai salah satu finalis Abang None Jakarta.

Masih di tahun yang sama ia didapuk sebagai “The Most Fearless Female Cosmopolitan 2007”.

Bersama teman-temannya ia mendirikan Thisable Enterprise untuk membantu memberdayakan mereka yang memiliki keterbatasan.

Dan bekerja sama dengan GoJek mempekerjakan orang disabilitas di Go-Auto dan Go-Glam.

5. Gracia Billy Yosaphat Membrasar

Billy merupakan satu-satunya milenial dari tanah Papua yang didapuk sebagai salah satu staf khusus presiden Jokowi.

Billy merupakan anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru dan ibunya seorang penjual kue.

Billy menempuh pendidikan SMA di Jayapura dari Pemerintah Provinsi Papua.

Ia selanjutnya mendapatkan beasiswa afirmasi dari pemerintah dan diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Ia juga pernah menempuh pendidikan di University of London, dan merupakan lulusan ANU (Australian National University).

Ia kini juga tengah menempuh pendidikan di University of Oxford.

Billy pernah bekerja di perusahaan minyak dan gas asal Inggris. Namun kemudian ia lebih memilih untuk mengurus “Kitong Bisa” yayasan yang fokus mengurusi pendidikan anak-anak Papua.

6. Andi Taufan Garuda Putra

Sosok Andi Putra diperkenalkan Joko Widodo sebagai sosok pemuda berusia 32 tahun yang banyak meraih penghargaan atas inovasinya, termasuk atas kepeduliannya terhadap sektor UMKM.

Andi merupakan founder sekaligus CEO Amartha Mikro Fintek, startup yang bergerak di bidang keuangan mikro.

Andi pernah menempuh pendidikan S1 di Manajemen Bisnis Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2004-2007.

Selain itu ia pernah mengikuti Summer Academy di Frankfurt School of Finance and Management pada 2013.

Ia juga mengambil pendidikan master di bidang administrasi publik di Harvard Kennedy Scool pada 2015-2016.

Andi pernah tercatat pula menjadi konsultan bisnis di IBM Indonesia pada Januari 2008-Juli 2009.

7. Aminudin Ma’ruf

Aminudin merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016.

Ia juga sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal solidaritas ulama muda Jokowi (Samawi).

Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Jakarta, kemudian melanjutkan S 2 di Universitas Trisakti.

%d blogger menyukai ini: