2 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Softbank Merugi, Bisnis Grab Makin Terdesak

Berita ini diberdayakan untuk suara.com

Oleh: Achmad Fauzi


© suara.com Aplikasi layanan transportasi online Grab pada sebuah ponsel dan komputer. [Shutterstock]

Suara.com – Kerugian besar yang diderita Softbank serta tingginya persaingan bisnis diperkirakan akan memberikan pukulan telak bagi kelangsungan bisnis Grab sehingga memaksanya untuk mencari cara untuk mengamankan profitabilitas dan margin perusahaan.

Situasi memang berubah cepat bagi Grab, perusahaan transportasi daring (online) asal Malaysia dengan valuasi 14 miliar dolar AS menurut CB Insights, hanya dalam waktu tiga bulan setelah kunjungan CEO SoftBank Group Masayoshi Son ke Indonesia pada bulan Juli 2019, saat dia mengumbar janji investasi di Indonesia senilai 2 miliar dolar AS dan membangun “markas kedua” di Jakarta.

SoftBank yang notabene investor terbesar Grab dengan total investasi mencapai 3 miliar dolar AS di perusahaan itu mencatat kerugian sebesar 8,9 miliar dolar AS atau setara Rp 125 triliun pada kuartal pertama 2019.

Kemudian, seperti dikutip dari Fortune, Softbank kembali melaporkan penurunan nilai aset besar-besaran atas investasinya di WeWork, startup penyewaan ruang kantor, hingga mencapai 9,2 miliar dolar AS atau setara 90 persen dari total investasi Softbank di WeWork yang tercatat sebesar 10,3 miliar dolar AS.

“Ini murni kesalahan penilaian saya, yang saya harus renungkan,” ujar Masayoshi di hadapan para investor dan media.

Tidak hanya terancam dari sisi dukungan investor, kelangsungan bisnis Grab saat ini juga terancam setelah perusahaan yang berambisi menjadi superapp itu diyakini masih mencatat rugi akibat model bisnisnya yang terus membakar uang untuk membiayai promosi guna memenangkan persaingan pasar.

Upaya Grab untuk dapat mendongkrak margin perusahaan terbentur persaingan bisnis yang sangat tinggi di Asia Tenggara dan sejumlah regulasi.

Baru-baru ini misalnya, sebuah peraturan baru telah diterbitkan oleh Pemerintah Singapura yang intinya melarang penggunaan skuter listrik di jalur pejalan kaki sehingga secara tidak langsung memukul bisnis layanan pesan-antar makanan yang dilayani Grab melalui aplikasi GrabFood.

GrabFood yang dilaporkan telah mendominasi pasar pesan-antar makanan di Singapura diketahui mengandalkan penggunaan skuter listrik untuk mempercepat pengiriman pesanan.

Oleh karenanya, larangan tersebut diyakini pihak manajemen Grab akan mengakibatkan tertundanya pengiriman atau pembatalan pesanan.

Kemudian uji coba layanan telehealth Grab pada bulan lalu yang mengusung konsep konsultasi medis berbasis aplikasi untuk pengguna di Indonesia, diperkirakan akan sulit berkembang.

Tidak hanya dinilai terlambat dari target peluncuran awalnya, yaitu kuartal pertama 2019 sejak diumumkan tahun 2018, peluncuran aplikasi itu juga dinilai terlambat dari pesaingnya.

%d blogger menyukai ini: