26 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Makna Jersey Bernomor Punggung 21 dari FIFA untuk Jokowi

Berita ini diberdayakan untuk tempo.co

Oleh: Tempo.co

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mendapat jersey nomor punggung 21 dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Nomor punggung ini berbeda dari kepala negara lain yang hadir dalam MoU antara ASEAN dengan FIFA.

Dari foto yang beredar, beberapa kepala negara menggunakan nomor punggung 9 dan 10. Hanya Jokowi yang menggunakan nomor 21.

Salah seorang delegasi FIFA yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan bahwa nomor punggung 9 diperuntukkan bagi para kepala pemerintahan. Sementara nomor punggung 10 diberikan kepada para kepala negara.


© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

“Khusus untuk Presiden Joko Widodo, diberikan nomor punggung 21 dengan makna keberhasilan Indonesia yang telah ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia di bawah usia 20 pada tahun 2021 mendatang,” kata Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden Erlin Suastini dalam siaran tertulisnya, Ahad, 3 November 2019.

Momen tersebut merupakan bagian dari acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ASEAN dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) yang dilaksanakan di Impact Exhibition and Convention Center, Bangkok, Thailand, pada Sabtu, 2 November 2019. MoU tersebut berbicara tentang pengembangan dan peningkatan sepak bola dengan tujuan mendorong pembangunan sosial serta gaya hidup sehat di kawasan.

Penandatanganan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi dan Presiden FIFA Gianni Infantino dalam rangkaian acara KTT ke-35 ASEAN dan disaksikan oleh para pemimpin negara-negara ASEAN.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi secara singkat menjelaskan bahwa terdapat empat bentuk kerja sama yang akan dilakukan antara ASEAN dengan FIFA. “Yang pertama adalah promotion of sport integrity, yang kedua adalah sport for development, yang ketiga adalah FIFA football for school programme, dan yang keempat adalah professional capacity building,” ujarnya.

%d blogger menyukai ini: