2 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Profil Moeldoko, Pernah Rutin Tidur di Musala dan Ditangkap Kondektur

Berita ini diberdayakan untuk viva.co.id

Oleh: Krisna Wicaksono, Ahmad Farhan Faris


© VIVA Moeldoko di Istana Kepresidenan Jakarta

VIVA – Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Moeldoko kembali dipercaya oleh Presiden Jokowi untuk tetap menjadi Kepala Staf Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. Ia mengumumkannya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat pada hari ini, Rabu 23 Oktober 2019.

Ada tiga nama yang tetap bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan, yakni Pratikno sebagai Menteri Sekretaris Negara, Pramono Anung jadi Menteri Sekretaris Kabinet, dan Moeldoko tetap jadi Kepala Staf Presiden.

“Jadi yang di Istana tetap. Pak Moeldoko, Pak Pramono dan Pak Pratikno masih tetap,” kata Jokowi, dikutip dari siaran tvOne.

Moeldoko adalah anak dari pasangan Moestaman dan Ibu Masfuah, yang lahir di Purwoasri, Kediri pada 8 Juli 1957. Ia anak bungsu dari 12 bersaudara. Ia sangat haus dengan dunia pendidikan. Terakhir kali ia mengemban ilmu, yakni lulus S-3 di Universitas Indonesia.

Sebagai pensiunan militer, ia punya karir yang bagus selama masih prajurit. Berbagai tugas pernah diembannya di TNI, mulai dari Panglima Divisi I Kostrad hingga Panglima TNI pada 2013-2015.

Moeldoko mendapatkan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama 1981 (lulusan terbaik Akademi Militer, Magelang), lulusan terbaik Sesko AD 1995 hingga lulusan terbaik Lemhanas 2008.

Selain banyak prestasi dan mendapat berbagai penghargaan, Moeldoko juga punya cerita yang tak bisa dilupakan semasa hidupnya, yakni tidur di musala setiap malam.

Moeldoko kecil punya kebiasaan rutin, sehabis pulang sekolah langsung ke sawah untuk membantu ala kadarnya. Layaknya bocah, Moeldoko berkeluyuran di perkebunan tebu dengan teman-teman sebaya.

Meski sedang asyik bermain, Moeldoko juga tidak lalai beribadah. Jelang Maghrib, ia sudah merapat ke musala dekat rumah. Usai salat, ia lanjut mengaji dan latihan silat. Setelah itu, ia tidur di musala sampai pagi.

“Itu setiap hari. Mungkin karena anaknya banyak, ibu saya juga enggak pernah nyari saya kalau malam,” katanya.

Tiap pukul empat pagi, Moeldoko ingat dibangunkan oleh Kiyai Slamet, dengan cara disabet pakai ranting. Ia diminta untuk mengaji, dilanjutkan salat Subuh. Setelah itu, baru pulang untuk bersiap ke sekolah.

Pernah ditangkap kondektur Kereta Api

Ini juga mungkin kenangan yang tak bisa dilupakan saat Moeldoko muda, ketika duduk di bangku SMP. Ia memang pintar, tapi sifat bandelnya juga tidak pernah surut.

Jarak sekolah Moeldoko jauh juga, jadi mencari tumpangan gratis ya sasarannya kereta api yang melintas dari Kediri menuju Jombang.

Begitu kereta melintas, ia langsung mengejar dan melompat. Moeldoko menganggap, itu bagian dari olahraga tiap pagi, meski terkadang juga mendapatkan sial atau apes.

“Kadang-kadang apes, ditangkap kondektur,” tuturnya.

Sanksinya, sang kondektur akan menyita buku lalu dititipkan di stasiun. Buku itu hanya bisa diambil oleh kepala sekolah. Ternyata, Moeldoko tidak takut lapor ke kepala sekolah untuk meminta tolong mengambil bukunya yang disita di stasiun kereta api. Untungnya, kepala sekolah selalu bersedia.

“Pak, jukukno bukuku nang stasiun (Pak, ambilkan buku saya di stasiun),” ungkapnya.

%d blogger menyukai ini: