24 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Fakta Baru Aksi Teror Abdul Basith, Berencana Gagalkan Pelantikan Presiden dengan Bom

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Farid Assifa


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Kediaman rumah Abdul Basith di Perumahan Pakuan Regency, Cluster Linggabuana, Dramaga, Bogor, Jawa Barat, nampak sepi, Senin (30/9/2019). Basith ditangkap Densus 88 atas dugaan menginisiasi dan menggerakkan pembuatan bom molotov untuk aksi Mujahid 212

JAKARTA, KOMPAS.com – Dosen nonaktif Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith diduga merencanakan aksi peledakan menggunakan bom rakitan saat aksi Mujahid 212 di kawasan Istana Negara pada 28 September 2019.

Kasus ini akihirnya dirilis oleh pihak Polda Metro Jaya setelah Baisth dan tersangka lainnya ditangkap di kawasan Bogor, Jawa Barat, pada 27 September 2019 lalu.

Dalam rilisnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono merinci kronologi penangkapan dan latar belakang rencana penyerangan tanggal 28 September 2019.

Kompas.com merangkum beberapa fakta baru kasus tersebut.

1. Rencana kerusuhan tanggal 24 September dianggap gagal

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan awalnya rencana kerusuhan massa mengunakan bom rakitan dilakukan pada tanggal 24 September 2019 di fly over Pejompongan, Jakarta Pusat.

Namun aksi yang terjadi pada malam itu dinilai kurang berhasil. Maka dari itu, Abdul Basith selaku tersangka yang terlibat dalam peristiwa tersebut menginstruksikan untuk rapat kembali pada tanggal 24 malam.

“Makanya tanggal 24 (September) malam, diadakan rapat permufakatan merencanakan untuk berbuat kejahatan berupa membuat chaos (kerusuhan) dengan medompleng aksi tanggal 28 September aksi Mujahid 212,” kata Argo.

2. Ditangkap sehari sebelum melaksanakan rencana aksi kerusuhan tanggal 28 September

Sehari setelah menggelar rapat tanggal 24 September, Abdul Basith lalu menghubungi temanya bernama Laode S untuk mencari Laode A dan Laode N yang ada di Papua.

Abdul Basith kemudian memberikan uang senilai Rp 8 juta kepada Laode S sebagai ongkos Laode N dan Laode A menuju Jakarta. Uang itu juga ditujukan untuk membeli bahan bahan pembuat bom.

Pada 26 September, Laode N dan Laode A tiba di Jakarta dan langsung menuju kediaman Abdul Basith di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Pada 27 September, pertemuan kembali digelar di rumah SO. Pertemuan itu dihadiri oleh Abdul Basith, SO, YD, dan Laode S.

Usai pertemuan, polisi langsung mengamankan para tersangka.

3. Daya ledak bom miliki Abdul Basith beradius 30 meter

Sebanyak 28 bom molotov milik Abdul Basith yang diamankan di kawasan Tangerang memiliki daya ledak hingga 30 meter. Kepala Urusan (Kaur) Peledak Puslabfor Mabes Polri Kompol Heri Yandi mengatakan, bom rakitan itu menggunakan bahan peledak merica, paku, dan deterjen.

“(Bom rakitan) diuji coba diledakkan, kerusakannya cukup kuat, bisa jarak 30 meter,” kata Yandi di Polda Metro Jaya.

Polisi menemukan sejumlah komponen pembuatan bom rakitan di antaranya deterjen, serbuk korek api yang telah dihaluskan, dan merica.

Yandi mengatakan, merica bisa menimbulkan kerusakan pada mata orang-orang yang berada di sekitar lokasi peledakan.

“Merica sifatnya pedas dengan harapan (saat diledakkan) asapnya bisa melukai mata. Ada juga (barang bukti) paku yang dililit di luar wadah botol, dilakban, dan kalau meledak bisa melukai orang di sekitar kejadian,” papar Yandi.

4. Abdul Basith berencana ledakkan bom saat pelantikan presiden

Polisi mengungkap motif baruselain kerusuhan tanggal 28 September lalu. Ternyata Abdul Basith diduga merencanakan peledakan untuk menggagalkan acara pelantikan presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019.

“(Motif peledakan) membuat chaos (kerusuhan), kalau chaos kemudian kegiatan prosedural kita bisa berpengaruh. Seperti berpengaruh pada pelantikan DPR dan berpengaruh ke pelantikan presiden,” kata Argo.

Menurut Argo, Abdul Basith awalnya merencanakan aksi peledakan menggunakan bom rakitan di 9 titik di wilayah Jakarta pada 28 September 2019, menunggangi aksi Mujahid 212 di kawasan Istana Negara.

Namun terkait dengan rencana penggalangan pelantikan presiden dan wakil presiden, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk menggali informasi baru terkait rencana tersebut.

%d blogger menyukai ini: