30 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Meneropong Penyebar Video Ribut di Tahan, Pengembang Reklamasi Rugi 100 Miliyar

Penyebar video keributan antara konsumen dan pengembang Golf Island, Wiliam, disebut-sebut pihak kepolisian berstatus mahasiswa S2. Dan saat ini telah mendekam dalam tahanan pihak Kepolisian. Pasalnya. Selain oknum itu, telah menyebar video di Internet, juga banyak konsumen yang membatalkan jual-beli properti di PIK II itu.

Tersangka (TSK) William sendiri telah ditahan sejak 20 Desember 2017.

Bagaimana hasilnya …?.

Berikutl kisahnya.

Laporan Ketua Tim: Gino Samsudin Mirsab.  

 Penyebar video keributan antara konsumen dan pengembang Golf Island, Wiliam (W), disebut-sebut pihak kepolisian berstatus mahasiswa pada pasca Sarjana (S2) disalah satu perguruan tinggi ternama ditanah air. Namun sejauh ini, belum dapat dijelaskan pihak kepolisian, bahwa, dia kuliah di universitas yang mana, di Jakarta.

“Dia mahasiswa S2. (Universitasnya) nanti saya tanyakan dulu,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, pada Sabtu (27/1/2018).

Menurut Komisaris besar Polisi (Kombes-Pol)  Argo Yuwono menyebutkan pada wartawan, saat keributan terjadi, ada pihak yang dengan sengaja merekamnya. Rekaman tersebut kemudian diperoleh William dan kemudian diunggah ke Internet “YouTube”.

“Jadi gini, ada namanya pembangunan di Golf Island, reklamasi bukan? Bukan toh. Jadi ada pembangunan di Golf Island. Konsumennya menanyakan, menanyakannya marah-marah. Ada yang nyuting (merekam) ada yang uploadke YouTube,” ucapnya.

Sebelumnya, Argo sapaan akrab Kabid Humas Polda metro itu, juga menyebutkan,  Wiliam bukan konsumen Golf Island. William juga mendapatkan video tersebut dari grup WhatsApp, dan istrinyalah yang di dalam grup itu, ada konsumen Golf Island.

William lalu mengambil video itu, kemudian disebarkan di media sosial pada 10 Desember 2017 lalu. Keributan sendiri terjadi pada 9 Desember 2017.

Sesuai hasil keterangan yang dihimpun media ini, menyebutkan, pertemuan tersebut sesuai hasil data yang digelar di kantor pemasaran di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Pada saat itu, konsumen tengah seriusnya, membahas permasalahan tentang pembangunan dengan pengembang Golf Island tersebut.

Dalam hal itu, pihak pengembang merasa sangat dirugikan atas sebaran video tersebut. Sebab, setelah video itu tersebar di internet, banyak pihak konsumen yang langsung membatalkan jual-beli properti di PIK II. William sendiri telah ditahan sejak 20 Desember 2017 lalu. Dan penyidik, kata Argo, telah memiliki bukti-bukti lengkap dalam kasus tersebut.  

 Video Konsumen Ribut, Pengembang Reklamasi Rugi Rp 100 M. Pihak kepolisian Metro Jaya, telah melakukan penahanan pada seseorang pria bernama William atas dugaan pencemaran nama baik terhadap pengembang Golf Island. William dinilai menimbulkan kerugian bagi pengembang karena menyebarkan video keributan antara pengembang dengan konsumen di media sosial.

“Perihal adanya video yang disebar di Youtube itu, pengembang merasa sangat dirugikan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Argo Yuwono kepada sejumlah wartwan Rabu (17/1/2018).

Ditegaskan Argo Yuwono, Video yang berdampak negative pada konsumen itu, memicu keributan antara konsumen dengan pengembang Golf Island, dimana letaknya tepat berada di pulau reklamasi C dan D. Kejadian tersebut, tepatnya pada 9 Desember 2017 lalu.

Akibat dari keributan saat itu, sehingga terjadi konsumen mempertanyakan, sejauh mana  kejelasan pembangunan properti Golf Island itu.  Selain itu pihak pengembang mengetahui Video itu diketahui, menjadi tersebar di Youtube, sehari setelah adanya pertemuan antara konsumen dan pengembang, tanggal 10 Desember 2017 lalu.

Dalam hasil data penyelidikan pihak kepolisian Metro Jaya, William lah yang telah terbukti telah menyebarkan video itu, di akun Youtube-nya.

“Video tersebut berkaitan dengan pada saat mereka menanyakan masalah bangunan di Golf Island, nah ini kan direkam oleh William ini,” sambung Argo.

Alkisah, dalam hasil investigasi, video itu tersebar di media sosial atau internet, sehingga pihak pengembang begitu merasa dirugikan oleh oknum tersangka W.

Singkat kisahnya, pengembang melaporkan kasus itu ke Polda Metro Jaya pada tanggal 11 Desember 2017 lalu.

“Setelah video itu tersebar, akhirnya banyak konsumen PIK II yang membatalkan, sehingga pengembang di situ merasa dirugikan,” lanjutnya.

Kalangan yang disebut-sebut telah menderita kerugian, atau pihak pengembang merasa begitu besar menderita kerugian atas sebaran video di internet itu. Akibat dari sebaran itu, banyak konsumen yang membatalkan jual-beli properti di PIK II.  “Kerugiannya sekitar Rp 100 miliar,” ucapnya.

Sementara itu, ketika oknum yang disebut-sebut sebagai tersangka bernama Wilow, dalam keterangan pihak kepolisian menyebutkan, oknum tersangka W itu, telah dinyatakan ditahan sejak 20 Desember 2017 lalu.

Penyidik, kata Argo telah memiliki sejumlah barang bukti-bukti dalam kasus yang merugikan pihak pengembang sebesar Rp 100 Miliayar itu.  (*****).

%d blogger menyukai ini: