1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kisah Sriwijaya Air: Utang Numpuk hingga Mau Diakuisisi Garuda

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh: Feby Dwi Sutianto

Maskapai penerbangan Sriwijaya Air Group memiliki utang triliunan rupiah ke beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mulai dari Garuda Maintenance Facility (GMF), Bank BNI, Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, hingga Pertamina.

Akibat utang yang menggunung ke BUMN, Pendiri dan Direktur Utama Sriwijaya Air saat itu Chandra Lie menemui Menteri BUMN Rini Soemarno. Chandra disebut menginfokan ke Rini soal kesulitan keuangan. Hal itu yang membuat Kerja Sama Manajemen (KSM) antara Sriwijaya Air Group dengan Garuda Indonesia Group terjalin.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

Meski kesepakatan dalam KSM itu sempat dilanggar Sriwijaya Air pada bulan lalu, namun hubungan kedua maskapai kini makin membaik, bahkan disebut akan memasuki babak baru. Berikut fakta terbaru mengenai KSM Garuda Indonesia-Sriwijaya Air yang dirangkum kumparan, Rabu (9/10):

Garuda Indonesia Akan Akuisisi Sriwijaya

Kementerian BUMN memastikan bahwa maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan mengakuisisi saham Sriwijaya Air.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, Sriwijaya Air Group sudah memberikan respons positif terkait rencana akuisisi tersebut.

“Iya kami tawarkan soal akuisisi, dan mereka (Sriwijaya Air) setuju. Sekarang lagi proses perhitungan valuasi,” katanya kepada kumparan di Labuan Bajo, NTT, Senin (7/10).


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Dari Kiri ke Kanan: Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) Abdulbar M Mansoer bersama dengan Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara, dan Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) Edy Setijono usai penandatanganan komitmen kerja sama sinergi BUMN promosi pariwisata nasional pada Rapat Koordinasi BUMN di Labuan Bajo, (6/10). Foto: Dok. Corp Communication Garuda Indonesia

Lanjut Edwin, proses akuisisi ini sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan utang-utang Sriwijaya Air Group kepada Garuda Indonesia dan beberapa BUMN. Karenanya, pihaknya juga sedang melakukan proses verifikasi utang Sriwijaya Air.

Sebab nantinya, nilai utang akan dikonversikan ke saham yang akan diakuisisi. Hanya saja, Edwin menambahkan, pihaknya masih belum tahu berapa persen saham yang bisa dipegang setelah utang Sriwijaya dikonversikan.

“Kita lihat ada tunggakan-tunggakan kemarin bisa dikonversikan jadi kepemilikan saham Sriwijaya. Makanya kita harus verifikasi utang mereka dulu dan lakukan valuasi,” tambahnya.

Dia juga mengungkap bahwa Sriwijaya Air sudah menyetujui terkait rencana tersebut. Tak hanya itu, Kementerian BUMN nantinya juga disebut akan mengatur terkait manajemen Sriwijaya Air.

“Mereka (Sriwijaya Air) terima, enggak ada masalah sih. Yang penting valuasinya itu fair sesuai pasar dan tagihan yang dikonversi itu benar-benar tagihan terverifikasi,” tambahnya.

Edwin mengaku akan menunjuk konsultan independen yang akan melakukan proses valuasi saham. Sementara untuk verifikasi utang ke BUMN, Kementerian BUMN akan menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Kita akan tunjuk konsultan yang bagus lah untuk valuasi, kalau verifikasi utang nanti kita tunjuk BPKP,” jelasnya.

Bos Sriwijaya Akan Diisi dari Kalangan Profesional

Para pemegang saham Sriwijaya Air secara resmi mencopot Joseph Andriaan Saul sebagai Direktur Utama pada Senin (9/9). Joseph merupakan wakil dari Garuda Indonesia.

Posisi ini kemudian diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Sriwijaya Air, Jefferson I. Jauwena hingga sekarang. Lalu, sampai kapan jabatan ini akan dilakukan oleh Plt?.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, Direktur Utama Sriwijaya Air definitif akan segera ditunjuk oleh Garuda Indonesia Group. Posisi tersebut akan diisi oleh kalangan profesional.

“Segera, dirutnya akan kita ganti. Rencana kita tunjuk kalangan profesional, dari luar Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air,” katanya kepada kumparan.

Dia menuturkan, alasan ditunjuknya kalangan profesional ini agar tidak menimbulkan kecurigaan. Selain itu, dia juga berharap agar kalangan profesional ini tidak terbawa dengan masalah masa lalu dan bisa menyelesaikan persoalan di tubuh Sriwijaya Air. Pun juga untuk mengurangi dugaan persaingan yang tak sehat seperti oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Selain posisi direktur utama, Edwin juga akan menunjuk jabatan komisaris Sriwijaya Air yang kosong dari kalangan profesional. Namun, dia enggan membocorkan siapa kandidat yang dimaksud.

“Salah satunya itu (KPPU). Komisaris nanti akan kita bawa dari orang profesional juga,” katanya.

Dia mengaku, proses penunjukan ini akan dilakukan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Berdasarkan rencana, lanjutnya, RUPS ini akan dilakukan sebelum 20 Oktober nanti.

“Yang pasti sebelum tanggal 20 akan kota lakukan RUPS,” tutupnya.

Utang Sriwijaya Air Capai Rp 2,46 triliun

Dari dokumen yang diterima kumparan pada Selasa (10/9), total utang Sriwijaya Air Group ke BUMN mencapai Rp 2,46 triliun pada posisi akhir Oktober 2018.

Berikut Rincian Utang Sriwijaya Air ke BUMN:

  1. Pertamina Rp 942 miliar
  2. GMF (Anak Usaha Garuda Indonesia) Rp 810 miliar
  3. BNI Rp 585 miliar (Pokok)
  4. Angkasa Pura I Rp 50 miliar
  5. Angkasa Pura II Rp 80 miliar
%d blogger menyukai ini: