2 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Tewas Usai Serang Polisi karena Tilang, Zaenal Disebut Alami Gangguan Jiwa, Ini Kata Sang Ayah

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Michael Hangga Wismabrata


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Zahabudin (60), orangtua Zaenal Abidin (29) saat ditemui di rumahnya di Dusun Tunjang Selatan, Minggu (8/9/2019)

KOMPAS.com- Sahabudin, ayah kandung Zaenal Abidin (29), warga Desa Paok Motong, Lombok Timur, mengaku telah mendapatkan surat dokumen yang menyatakan bahwa kasus kematian Zaenal telah diselesaikan secara damai.

Surat dokumen itu didapatkan dari Ketua Forum Rakyat Bersatu (FRB) Lombok Timur, Eko Rahady, sebanyak satu lembar dan tertanggal Sabtu (7/9/2019).

Ada dua poin dalam surat bermeterai 6000 tersebut, salah satu poin menyebutkan bahwa Sahabuddin mengakui anaknya mengalami gangguan jiwa.

Setelah menerima dokumen itu, Sahabudin mengaku takut untuk berkomentar tentang kasus tersebut.

“Tidak tahu mau ngomong apa, takut nanti salah-salah, karena sudah tanda tangan surat,” ungkapnya.

Berikut ini isi surat pernyataan Sahabudin tertanggal Sabtu (7/9/2019):

Poin pertama menyebutkan,

“Kami selaku orang tua dan keluarga dari Zaenal Abidin tersebut di atas, tidak keberatan dan tidak akan menuntut secara hukum dari pihak manapun di kemudian hari, atas apa yang sudah terjadi dan yang dialami oleh anak kami tersebut di atas dikarenakan kami selaku keluarga menyadari/memaklumi klondisi anak kami yang sedang mengalami gangguan jiwa”

Sedangkan poin yang kedua bertuliskan,

“Kami selaku orangtua mewakili keluarga mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan/sumbangsih biaya pengobatan/perawatan dan santunan yang telah diberikan oleh pihak kepolisian”

“Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat dipergunakan sebagai mana mestinya”, tutup surat tersebut.

tidak bisa membayangkan detik-detik putranya dianiaya hingga meregang nyawa.

“Tidak bisa saya bayangkan bagaimana rupa anak saya itu jika saat dipukul. Dipenjara saja 10 tahun tidak apa-apa,” ungkap Sahabudin, sambil menghela napas panjang.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, Alm. Zainal Abidin.

Seperti diketahui, Zaenal terlibat perkelahian dengan oknum polisi dari satuan lalu lintas di Polres Lombok Timur pada Kamis (5/9/2019).

Menurut polisi, perkelahian tersebut dipicu saat Zaenal memukul salah satu anggota polisi ketika ingin mencari sepeda motornya yang ditilang.

Penjelasan polisi
Sementara itu, Kapolda NTB Irjen Nana Sudjana menjelaskan, perkelahian Zaenal diawali dengan penilangan terhadap Zaenal yang melakukan pelanggaran lalu lintas.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, Kapolda NTB Irjen Nana Sudjana

“Saya mulai dari kronologi saja, pada hari Kamis tanggal 5 September 2019 pukul 20.20 Wita, bertempat di lapangan apel Satlantas Polres Lotim, si Zaenal dengan menggunakan sepeda motor dari arah melawan arus dan tanpa helm memasuki pintu gerbang kantor Satlantas,” ungkap Nana, dalam jumpa pers, Senin (9/9/2019).

Setelah itu, Zaenal datang untuk menanyakan motornya yang ditilang. Tiba-tiba, kata Nana, Zaenal memukul anggota polisi Satuan Lalu Lintas yang memicu terjadinya perkelahian.

“Tiba-tiba Zaenal memukul anggota lantas (polantas) yang mengakibatkan terjadinya perkelahian, dengan anggota yang bertugas,” ungkap Nana.

Lalu, petugas segera mengamankan Zaenal dan segera di bawa ke ruang SPKT untuk diperiksa. Namun, saat dibawa, Zaenal terjatuh tak sadarkan diri.

Setelah itu, petugas melarikan Zaenal ke RSUD Sudjono untuk dirawat. Namun, nyawa Zaenal tak bisa diselamatkan.

Sumber: KOMPAS.com (Idham Khalid)

%d blogger menyukai ini: