1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Duduk Perkara Kontak Senjata di Deiyai Papua, Libatkan KKB hingga 2 Warga Sipil Tewas

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh: Rachmawati


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Petugas polisi mengantar seorang ibu menjauh dari pusat kerusuhan di Mimika, Papua Barat.

KOMPAS.com – Rabu (28/8/2019), sekitar 500 orang berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Deiyai, Papua. Aksi tersebut adalah aksi lanjutan dari tanggal 24 Agustus 2019.

Aksi yang digelar pukul 09.00 waktu setempat, terkait tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu.

Yul Toa Motte koordinator aksi mengatakan awalnya aksi berjalan tertib, namun sekitar pukul 13.00 WIT kerusuhan pecah saat aparat menembakkan gas air mata.

Dia menyebut ada korban dalam kejadian tersebut.

”Kemudian dilanjutkan dengan timah peluru. Saya lihat sendiri dengan mata sendiri. Situasi sampai saat ini peluru masih bunyi, masih memanas,” kata Yul, saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Melibatkan kelompok kriminal bersenjata

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo ketika ditemui di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara memastikan bahwa pihak yang terlibat baku tembak dengan polisi dan TNI di halaman Kantor Bupati Deiyai adalah kelompok krminal bersenjata.

“Penyerangnya diduga terindikasi kelompok KKB,” jelas Dedi, Rabu (28/8/2019).

Namun polisi belum dapat mengidentifikasi asal usul kelompok tersebut.

Dedi mengatakan unjuk rasa di halaman Kantor Bupati Deiyai melibatkan sekitar 150 orang dan massa menuntut bupati menandatangani referendum.

Aparat sempat melakukan negosiasi dengan pengunjuk rasa.

Namun saat negosiasi masih berlangsung, tiba-tiba datang sekitar seribu orang ke lokasi. Mereka muncul dari segala penjuru.

Kelompok itu datang sambil menari tarian adat perang dan membawa senjata tajam. Bahkan diduga mereka membawa senjata api.

Kelompok itu langsung menyerang aparat.

Polisi sebut 2 anggotanya dan 2 TNI jadi korban


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi unjuk rasa di Papua.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo melalui keterangan tertulisnya, Rabu (28/8/2019) mengungkapkan dua personel TNI dan empat anggota Polri menjadi korban kericuhan di Kabupaten Deiyai, Papua.

Satu di antara personel TNI tersebut, yang bernama Serda Rikson meninggal dunia. Jenazahnya segera dievakuasi ke Nabire melalui jalur darat.

Kemudian, lima anggota lainnya mengalami luka akibat terkena anak panah.

Seluruh korban sudah dilarikan ke Rumah Sakit Enarotali untuk mendapat perawatan.

“Satu personel TNI meninggal dunia, satu personel TNI terkena panah, satu personel Brimob kena panah, tiga personel Samapta Polres Paniai kena panah,” tuturnya.

Selain dari aparat, terdapat dua warga sipil yang meninggal akibat kejadian itu.

Satu warga meninggal di RS Enarotali akibat luka tembak di bagian kaki. Sementara satu warga lainnya meninggal akibat terkena anak panah di bagian perut di halaman Kantor Bupati Deiyai

Saat aksi, massa juga merampas senjata api milik TNI.

“Massa merampas sekitar 10 pucuk senpi sambil melakukan penembakan ke arah petugas TNI dan Polri yang sedang melakukan pengamanan unjuk rasa yang pada awalnya damai,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Rudolph A. Rodja.

Kondisi sudah kondusif

Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Cpl Eko Daryanto saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Rabu (28/8/2019) mengatakan situasi Distrik Waghete, Deiyai, sudah berangsur kondusif dan massa telah membubarkan diri sejak pukul 16.00 WIT.

Eko menjelaskan, Dandim 1705/Paniai, bersama Bupati Deiyai dan para tokoh masyarakat setempat sedang berkumpul untuk mengatasi masalah tersebut.

SUMBER: KOMPAS.com (Dhias Suwandi, Devina Halim)

%d blogger menyukai ini: