13 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Menyingkap Khasiat Kayu Bajakah, Tanaman Langka dari Belantara Hutan hingga Penyembuh Kanker

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Candra Setia Budi


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ketiga siswa yang berhasil mengharumkan Indonesia melalui Karya Ilmiah Kayu Bajakah Penyembuh Kanker

KOMPAS.com – Penelitian tiga siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tentang tanaman langka bernama Bajakah, mampu mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi Life Science di Seoul, Korea Selatan pada 25 Juli 2019 lalu.

Tak hanya itu, penelitian Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani, tersebut juga memberikan secercah harapan bagi para pengidap kanker.

Dari uji sampel penelitian yang menggunakan dua ekor mencit atau tikus kecil berwarna putih, cairan kayu Bajakah mampu menyelamatkan tikus yang sebelumnya telah diinduksi zat pertumbuhan sel tumor atau kanker.

Berikut ini fakta lengkapnya:

Awal penemuan

Penemuan berawal pada tahun 2018 lalu, 3 siswa SMAN Palangkara, Kalimantan Tengah, melakukan penelitian terhadap tumbuhan yang bernama “Bajakah”

Penelitian Bajakah sendiri dilakukan setelah guru pembimbing siswa yang merupakan guru biologi, Helita mengatakan, berawal dari informasi dari Yazid.

Yazid mengatakan bahwa ada sebuah tumbuhan di hutan Kalimantan Tengah, yang kerap digunakan keluarganya bisa menyembuhkan kanker, bahkan kanker ganas stadium empat sekali pun.

Di bawah bimbingan Helita, ketiga siswa memutuskan untuk memulai pembahasan awal yang lebih serius mengenai kayu Bajakah tersebut.

Penelitian diawali dengan uji pendahuluan di laboratorium sekolah.

Diuji coba dengan tikus

Lalu penilitian dilanjutkan dengan uji sampel penelitian lanjutan, yang menggunakan dua ekor mencit atau tikus betina atau tikus kecil berwarna putih, yang sudah di induksi atau disuntikan zat pertumbuhan sel tumor atau kanker.

Sel kanker berkembang di tubuh tikus dengan ciri banyaknya benjolan pada tubuh, mulai dari ekor hingga bagian kepala.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, tikus putih, ilustrasi uji coba

Mereka lalu memberikan dua penawar atau obat yang berbeda terhadap kedua tikus.

Satu tikus diberikan bawang dayak dalam bentuk cairan yang diminumkan ke tikus. Sementara tikus lainnya diberikan air rebusan yang berasal dari kayu Bajakah.

“Setelah memasuki hari ke 50, mencit yang diberikan air penawar dari bawang dayak mati, sementara mencit yang diberikan cairan kayu Bajakah, tetap sehat bahkan justru bisa berkembang biak,” ujar Helita, Senin (12/8/2019).

Miliki kandungan antioksida

Setelah melalui pembuktian terhadap media uji sampel, maka pada awal bulan Mei 2019, penelitian dilanjutkan dengan memeriksa kadar yang terdapat pada kayu Bajakah tersebut melalui uji laboratorium, yang bekerja sama dengan pihak laboratorium di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian, kayu Bajakah itu memiliki kandungan yang cukup kaya antioksidan bahkan ribuan kali lipat dari jenis tumbuhan lain yang pernah ditemukan, khususnya untuk penyembuhan kanker.

Beberapa hasil uji laboratorium ditemukan fenolik, steroid, tannin, alkonoid, saponin, terpenoid, hingga alkonoid.

Peneliti Universitas Lambung Mangkurat Eko Suhartono mengatakan, berdasarkan penelitian akar Bajakah disimpulkan bahwa akar ini banyak mengandung senyawa sel pitu gimia yang berperan sebagai anti kanker.

“Untuk tanin dan flafonoit senyawa ini berperan dengan cara melepaskan senyawa hidroksil di mana itu dia akan berikatkan dengan senyawa kanker sehingga menghambat proses dari brober dari kanker itu sendiri,” katanya.

Tumbuhan ini hanya hidup di hutan

Untuk mendapatkannya, kita harus masuk ke bagian dalam hutan. Tak puas di laboratorium, saya bergegas menuju hutan yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Palangkaraya. Saya diantar oleh seorang guru dan 2 siswi penerima penghargaan.

@ Disediakan oleh www.timurmerdeka.com, Pohon kayu Bajakah

Sang guru memberi catatan, saya tak boleh memberi tahu di mana hutan itu berada. Setelah melewati jalur Trans-Kalimantan, saya dan tim AIMAN mulai masuk hutan menggunakan mobil.

Beberapa menit perjalanan di dalam hutan, kami tiba di lokasi yang tidak bisa lagi dilalui mobil. Kami pun turun berjalan kaki selama beberapa menit dan tiba di sebuah tempat di tengah hutan di antara lahan gambut dengan air yang berwarna khas, coklat namun jernih, mirip warna minuman ringan ternama.

Di sinilah saya pertama kali melihat dan menemukan pohon yang dikatakan langka ini. Lagi-lagi sepintas pohon ini seperti pohon biasa, sulit dibedakan dengan tanaman lain.

Bedanya, pohon ini tumbuh dengan cara merambat meski memiliki batang yang kuat dan cukup besar. Ia bisa merambat pada ketinggian 5 meter lebih hingga ke puncak pohon lain yang dirambatinya. Akarnya menghujam di dasar aliran air lahan gambut.

Satu hal lagi yang saya dapatkan, tumbuhan ini hanya hidup di lokasi rimbun di mana sinar matahari tak banyak masuk, tertutup rimbunnya hutan.

Sembuhkan warga yang kena kanker payudara

Daldin keluarga penderita kanker payudara stadium empat mengatakan, kalau ibu-nya sudah menderita kanker payudara 10 tahun lebih dan sempat disuruh untuk operasi.

Kemudin orangtuanya (bapak) berinsiatif untuk mencari (Bajakah) dan dapatlah itu.

“Saya melihat sekali betapa menderitanya ibu. dia punya susu sudah bernanah, setelah minum itu di luar dugaan kita sangat menakjubkan, hanya butuh 2 minggu untuk sembuh dan 1 bulan sembuh total,” katanya dalam acara Aiman di Kompas TV.

Yakin dengan hasil penelitian

Dua siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Palangkaraya Aysa Maharani dan Anggina Rafitri peneliti akar Bajakah yang mendapat penghargaan internsional juara 1 karena menemukan obat untuk kanker di Seoul, Korea Selatan.

Yakin tanaman yang ditemukan bukan hanya meringankan tapi juga bisa menghilangkan sel kanker.

“Yakin, karena sudah di uji dan kita bekerja sama dengan Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan,” kata Angina ketika ditanya Aiman.

Ketika ditanya dalam program Aiman mengenai bagaimana negara-negara menerima hasil penemuan tersebut.

Anggina menjelaskan sangat tertarik karena penyakit kanker merupakan penyakit nomor satu berbahaya dan paling ganas dan mematikan.

“Jadi kami sangat tertarik membuat penelitian ini saya sangat-sangat ingin membantu orang banyak dengan akar Bajakah tunggal,” katanya.

Ia menambahkan, setelah selesai sekolah akan meneruskan ke Universitas Indonesia, sementara Aysa akan meneruskan ke universitas di Kalimantan.

“Mau ambil jurusan ke dokteran, karena ingin menolong orang banyak dengan kearifan lokal Kalimantan,” ungkapnya.

Jadi juara tingkat internasional

Pada 10 Mei 2019, guru pembimbing dan ketiga siswa sepakat untuk mengikuti perlombaan yang diadakan di Bandung.

“Kami sepakat untuk mengikuti lomba Youth National Science Fair 2019 (YNSF) yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kami bersyukur setelah kami berhasil memenangkan perlombaan tersebut, bahkan tak disangka bahwa kami menjadi perhatian dan berhasil meraih juara, dengan memperoleh medali emas, terbaik se-Indonesia,” ujarnya.

“Ini menjadi tiket kami untuk melangkah ke tingkat Internasional,” kata Yazid.

Setelah sukses di Bandung, karya ilmiah dari ketiga siswa tersebut dipilih mewakili Indonesia, untuk tampil dalam perlombaan tingkat internasional dalam ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Namun, dalam ajang selanjutnya Yazid tidak ikut, sehingga diwakilkan oleh dua rekannya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani.

Merupakan kegiatan ekskul

Kepala Sekolah SMAN 2 Palangakaraya M Mi’razulhadi mengatakan, ketika ada siswanya yang ikut lomba dan menjadi juara tingkat internasional mengatakan, memang ini merupakan program dari sekolah-nya, di mana mempunyai kegiatan akademik dan non akademik dan kebetulan ini masuk non akademik.

“Kebetulan perlombaan tersebut masuk dalam non akedemik. Di eskul, mereka giat sekali ikut berlatih dan ikut lomba,” katanya.

Dijelaskannya, untuk waktu lamanya ekskul bisa sampai 2 minggu bahkan lebih.

“Dan kami bisa menempatkan waktu dan berkomunikasi dengan orangtua bagaimana mereka bisa seimbang dengan prestasi,” ujarnya.

Sumber: KOMPAS.com (Heru Margono, Kurnia Tarigan, Kompas TV)

%d blogger menyukai ini: