2 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Sambil Menahan Tangis, Rachmawati Soekarnoputri Minta RI Kembali ke UUD 1945

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Bayu Galih


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Rachmawati Soekarnoputri berpose seusai menjalani shooting program bincang-bincang Brownis di Gedung Trans, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (3/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com – Putri Presiden pertama RI Soekarno, Rachmawati Soekarnputri, tak mampu menahan haru ketika ia diminta memberikan pesan-pesan kebangsaan dalam acara dialog kebangsaan.

Pesan itu disampaikan Rachmawati dalam acara bertajuk “Pancasila Perekat Kita, Satu Nusa Satu Bangsa” di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (12/8/2019).

“Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tidak bisa dipisahkan,” kata Rachmawati saat memberikan pesan-pesan kebangsaan itu dengan suara bergetar menahan tangis.

“Pancasila agar bisa tegak di Republik Indonesia harus digandeng kembali dengan UUD ’45. Artinya, kita harus kembali ke UUD ’45,” tuturnya.

Ia mengatakan, berdasarkan literatur dari pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno, atas kemerdekaan bangsa Indonesia, maka negara ini harus memiliki satu landasan ideal.

Landasan tersebut, kata dia, berupa filosofi dalam Pancasila yang dianggap sebagai perekat persatuan Indonesia.

Ia menjelaskan, Pancasila memiliki filosofi sebagai grondslag atau dasar. Sehingga, tidak hanya digunakan sebagai slogan tetapi Pancasila juga memiliki dua fungsi.

“Pertama adalah ‘leitstar dinamis’, sebagai bintang pemimpin, yaitu menciptakan masyarakat yang adil makmur sejahtera,” kata Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra ini.

Landasan kedua, menurut Rachmawati, adalah Pancasila sebagai meja statis.

“Jadi ini tak bisa diubah-ubah. Pancasila harga mati. Dua fungsi ini hanya bisa diciptakan dengan UUD 1945 sebagai landasan strukturiel,” kata dia.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan itu, selain Rachmawati sejumlah tokoh nasional dan tokoh agama juga hadir.

Tokoh yang hadir antara lain Wakil Presiden ke-6 Indonesia Try Sutrisno, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, K.H. Salahuddin Wahid, dan tokoh-tokoh lainnya.

Semula, Wakil Presiden Indonesia terpilih K.H. Ma’ruf Amin juga dijadwalkan hadir. Namun, hingga acara berlangsung, Ma’ruf Amin tak tampak hadir.

%d blogger menyukai ini: