18 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Sri Mulyani Saat “Dibajak” Jokowi dari Bank Dunia

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Erlangga Djumena


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Menteri Keuangan Sri Mulyani di GIIAS 2019

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo rupanya pernah “membajak” Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Aksi pembajakan Jokowi itu dilakukan saat menunjuk Sri Mulyani untuk kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 2016 lalu. Padahal, saat itu wanita yang akrab disapa Ani itu tengah menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Bank Dunia.

Kejadian tersebut diceritakan Ani saat menjadi pembicara dalam acara ‘Kadin Talks’ di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Menurut Sri Mulyani, saat diminta kembali menjadi Menteri Keuangan oleh Jokowi dirinya sempat dilanda kebingungan. Sebab, dia sudah merasa nyaman menjadi salah satu petinggi di bank dunia.

“Keputusan ini sangat mempengaruhi pribadi, keluarga dan dalam kasus saya ini mungkin mempengaruhi negara juga. Jadi dimensinya enggak selalu ‘oh apa yang untung buat saya (jadi menteri keuangan lagi)’. Prosesnya agak kompleks ketika Pak Jokowi meminta saya bergabung dengan kabinetnya,” ujar Sri Mulyani.

Ani menceritakan, saat itu Jokowi mengatakan kepada dirinya bahwa dia ingin membangun Indonesia dengan struktur ekonomi yang kuat dan berkeadilan. Atas dasar itu, Jokowi meminta bantuan Ani untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Wanita yang kini berusia 56 tahun itu pun merasa tertarik untuk membantu Jokowi membangun perekonomian Indonesia. Menurut Ani, cita-cita Jokowi itu sangat mulia.

Namun, di satu sisi, jika Ani bergabung dengan kabinet Jokowi, dia harus meninggalkan zona nyamannya di bank dunia.

Padahal, dengan menduduki jabatan direktur pelaksana, Ani bisa memperoleh pendapatan yang besar dan pengalaman berkeliling dunia untuk melihat perekonomian negara-negara lain.

“Di World Bank kita bisa keliling dunia dan kita bisa berkontribusi dalam pembangunan. Karena tujuannya mengurangi kemiskinan. Jadi saya punya kesempatan melihat banyak negara di dunia, melihat kondisi perekonomian suatu negara,” kata wanita kelahiran Lampung ini.

Menurut Ani, apa yang didapatnya dari bank dunia tak hanya berbentuk materi saja. Namun, dia juga bisa mendapatkan pengalaman dan perspektif yang lebih luas.

Selain itu Ani menilai tawaran Jokowi untuk menjadi menteri keuangan lagi bukan lah hal yang menantang bagi dirinya. Sebab, dia pernah menduduki posisi itu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Saya itu bukan orang yang ingin kembali ke pekerjaan lama. (Buat saya) hidup itu harus move on. Jadi kalau jadi menteri keuangan lagi saya harus menemukan motivasi lagi supaya saya bisa berkontribusi optimal,” ucap dia.

Menurut Ani, menemukan motivasi baru merupakan hal yang penting. Dia tak mau saat menjabat menteri keuangan lagi akan menganggap remeh pekerjaan itu.

Atas dasar itu, dia perlu memikirkan secara matang pinangan Jokowi itu. Namun, saat mengetahui kondisi perekonomian Indonesia sedang genting, Ani merasa tertantang untuk memperbaikinya.

“Pas pulang (ke Indonesia) kondiis APBN sulit. Semua orang bilang APBN kekurangan penerimaan besar, kondisi sangat membuat confidence sangat fragile. Kemudia Pak Banbang luncurkan tax amnesty. Jadi kondisinya sangat demanding,” kata istri Tonny Sumartono itu.

Setelah menemukan motivasi baru untuk menjabat bendahara negara lagi, jalan Ani untuk berkontribusi bagi negara lagi-lagi terganjal. Pasalnya, saat itu dia kembali ke Indonesia untuk menjalani tugasnya sebagai direktur pelaksana Bank Dunia.

Dia hanya diberi waktu selama tiga hari di Indonesia untuk menjadi pembicara di Universitas Indonesia.

Mengetahui dirinya di Indonesia, Jokowi malah meminta dirinya menghadap ke Istana Negara. Oleh Jokowi Ani tak diperbolehkan kembali ke Amerika Serikat lagi.

Sebab saat itu Jokowi tengah melakukan reshuffle kabinet. Dia menginginkan Ani menggantikan Bambang Brodjonegoro sebagai bendahara negara.

Ani pun sempat menolak tawaran tersebut. Pasalnya, dia merasa misinya di Indonesia sebagai direktur pelaksana Bank Dunia belum selesai.

Terlebih lagi, para petinggi Bank Dunia belum tahu jika dirinya harus keluar dari lembaga tersebut. Sesuai prosedur yang berlaku, pengunduran direksi Bank Dunia harus melalui beberapa mekanisme.

Akhirnya, Jokowi pun menghubungi Presiden Bank Dunia saat itu Robert Zoellick Jim Yong Kim untuk “membajak” Sri Mulyani.

“Presiden Jim Kim syok. Dia ditanyain semua board ‘why you let her go’. Orang lain saat pengumuman kabinet excited, tapi saya depresed banget,” kata Ani.

Setelah mendapat restu dari Presiden Kim, akhirnya Ani menerima tawaran untuk kembali menjabat sebagai menteri keuangan. Dia pun merasa pengabdiannya di Bank Dunia sudah cukup.

Saat itu, Ani berpikir sudah saatnya dirinya kembali mengabdi bagi negara yang dicintainya.

“Kalau yang meminta presiden yang dipilih rakyat dan beliau meminta kita bergabung dalam rangka membanugn cita-cita Indonesia, i dont think anyone can say no,” ujar Sri Mulyani.

%d blogger menyukai ini: