4 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Cerita Korban Order Fiktif Grabfood, Warung Sedang Renovasi hingga Dapat Tagihan Rp 10 Juta

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Michael Hangga Wismabrata


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Pemilik Warung Makan Bebek Ciphuk, Riski Riswandi saat melapor ke Polres Malang Kota karena jadi korban order fiktif GrabFood, Rabu (31/7/2019)

KOMPAS.com – Menjadi korban order fiktif aplikasi GrabFoof, Riski Riswadi lapor ke polisi, pada hari Rabu (31/7/2019).

Riski mengaku, warung Bebek Ciphuk miliknya di Kota Malang, tiba-tiba muncul orderan dengan transaksi total Rp 40 juta.

Setelah dirinci, jumlah tersebut merupakan total transaksi selama 3 hari. Dirinya menduga orderan tersebut fiktif yang dilakukan oleh oknum pengemudi grab.

Sementara itu, pihak kepolisian meminta Riski untuk membuat surat pengajuan telah menjadi korban order fiktif ke Grab.

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Kronologi order fiktif hingga RP 40 juta


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi Grab Food

Riski menjelaskan, order fiktif terhadap warungnya dilakukan sejak Sabtu (27/7/2019), lalu hari Senin hingga Selasa.

Sebagai barang bukti pembelian, pengemudi GrabFood memanfaatkan struk palsu yang ditemukan berserakan di bekas warung itu. Dalam struk itu tertera nilai pembelian yang seragam, yakni Rp 125.000.

Riski menduga, ada pihak tertentu yang sengaja menyediakan struk palsu itu.

“Hari Selasa saya datang ke warung, di sana banyak pengemudi Grab. Struk ini berserakan,” katanya.

Sementara itu, hasil laporannya ke pihak Polres Malang Kota, Riski diminta membuat surat pengajuan terlebih dahulu ke Grab bahwa telah menjadi korban order fiktif.

2. Warung toko sedang renovasi


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ojek online menggunakna GPS pada ponsel saat berkendara mengantar dan menjemput penumpang.

Riski menceritakan, warung makan Bebek Ciphuk miliknya di Jalan Raden Tumenggung Suryo Kota Malang ditutup karena akan direnovasi.

Sebagai gantinya, Riski bersama istrinya, Fitria Dwi Hastuti membuka warung makan yang sama di Jalan Terusan Titan 5 G4.

Lalu karena dirinya menjalin kerja sama dengan GrabFood, pada 3 Juli lalu ia mengajukan pindah alamat.

Namun, pengajuannya tak kunjung terealisasi. Akun Bebek Ciphuk juga masih aktif dengan alamat yang lama.

Riski menduga, situasi tersebut dimanfaatkan sejumlah oknum pengemudi Grab untuk melakukan order fiktif.

Apalagi, GrabFood sedang memberlakukan diskon promo 40 persen untuk minimal pembelian Rp 50.000.

“Mereka memanfaatkan promo,” katanya.

3. Toral transaksi capai Rp 40 juta


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi tagihan kartu kredit.

Riski menjelaskan, transaksi GrabFood di warungnya mecapai sekitar Rp 40 juta dalam tiga hari. Padahal, warungnya itu sudah tutup sejak Bulan Ramadhan lalu karena sedang direnovasi.

“Nilainya Rp 40 juta dalam waktu tiga hari,” katanya saat di Mapolres Malang Kota, Rabu (31/7/2019).

Selain itu, Riski juga harus menerima tagihan dari Grab sebesar 25 persen dari total nilai transaksi yang mencapai Rp 40 juta.

Atas dasar itu, Riski melaporkan order fiktif yang dialaminya itu ke Mapolres Malang Kota.

4. Banyak pengemudi Grab berkumpul di warung


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi driver Grab mengantar pelanggan.

Riski mulai curiga saat akun miliknya mulai banyak diorder sejak Sabtu (27/7/2019).

Saat itu, dirinya sempat ditelpon oleh salah satu driver Grab karena warungnya tutup. Padahal di aplikasi warung itu tetap buka.

Driver Grab itu juga mengatakan bahwa di warungnya yang sudah tutup banyak pengemudi Grab.

“Hari Sabtu ada driver yang ngasih tahu. Tutup kok ada orang,” katanya.

Pada Selasa (30/7/2019), dirinya langsung mengecek ke lokasi warung makannya itu.

Ketika itu, ia mendapati banyak pengemudi Grab di lokasi itu. Ia juga mendapati banyak struk atas nama warung makan miliknya.

5. Diminta lapor ke Grab


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Ilustrasi Polisi

Riski langsung melaporkan kasus yang menimpa dirinya ke Polres Malang. Setelah itu, dirinya diminta membuat surat pengajuan ke Grab bahwa warung makan miliknya telah menjadi korban order fiktif.

“Saya disarankan buat pengajuan ke Grab supaya informasi tagihannya ketahuan kalau fiktif,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak Polres Malang Kota tidak ada yang bisa dimintai keterangan terkait kasus tersebut.Sumber: KOMPAS.com (Andi Hartik)

%d blogger menyukai ini: