25 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Begini Strategi Risma untuk Memangkas Biaya Pengelolaan Sampah di Surabaya

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Abba Gabrillin


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, saat berkunjung ke Menara Kompas, Palmerah, Jakarta, Rabu (31/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjelaskan secara rinci strategi yang dia gunakan untuk memangkas biaya pengelolaan sampah di Surabaya, Jawa Timur.

Salah satunya adalah dengan membangun 28 tempat pembuangan sampah terpadu (TPST).

Menurut Risma, pembangunan TPST ini dapat memangkas ongkos pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Keberadaan TPST membuat jarak pengiriman sampah menjadi lebih dekat. Di sisi lain, TPA tidak terbebani dengan jumlah sampah dari seluruh wilayah Surabaya.

“Karena kalau semua sampah masuk ke TPA, berat Surabaya bayarnya,” kata Risma saat berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta, Rabu (31/7/2019).

Risma mengatakan, TPST yang dibangun itu bukan hanya sebagai tempat pembuangan sementara. Namun, TPST dilengkapi fasilitas pengolahan sampah.

Misalnya, TPST memiliki kemampuan pemilahan sampah.

Kemudian, beberapa TPST sudah dipasangi mesin dan pembangkit listrik bertenaga 3 kilowatt. Mesin tersebut langsung dapat mengolah sampah menjadi kompos yang nantinya digunakan sebagai pupuk tanaman di sejumlah taman yang dimiliki Surabaya.

Namun, saat ini baru 3 TPST yang menggunakan tenaga listrik, yakni TPST Bratang, Jambangan dan Wonorejo.

“Jadi sampah itu dipecah ke beberapa TPST. Misalnya dia tinggal di Surabaya Timur, enggak perlu dia buang sampah ke TPA yang jaraknya 11 kilometer. Jadi, beban pengeluaran untuk transportasi bisa lebih murah,” kata Risma.

Menurut Risma, dia sudah memerintahkan Kepala Dinas Kebersihan Surabaya untuk mendirikan 5 TPST yang baru.

Pangkas beban TPA

Risma mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya melibatkan kontraktor pengelola sampah yang dikontrak selama 20 tahun.

“Karena kami enggak punya uang, kontrak dengan investor (kontraktor) itu 20 tahun. Nah, setiap tahun, kami membayar sesuai dengan jumlah sampah yang masuk ke TPA,” kata Risma.

Risma mengatakan, masing-masing TPST mempekerjakan satuan tugas yang merupakan warga Surabaya. Para pekerja juga mendapat pelatihan atau transfer knowledge dari pihak kontraktor.

Menurut Risma, pengoperasian pengelolaan sampah di PTSP tidak terlalu sulit dilakukan.

“Ada yang lulusan SD, bahkan ada yang tunarungu kemarin dia kelola itu,” kata Risma.

Risma mengatakan, pembangunan TPST sudah terbukti dapat mengurangi beban TPA.

Menurut dia, sebelumnya total sampah yang diterima TPA per hari seberat 3.600 ton.

Namun, meski jumlah penduduk naik, jumlah sampah yang diterima TPA semakin berkurang.

Saat ini, jumlah sampah yang diterima TPA per hari sekitar 1.300 ton per hari.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta melakukan studi banding pengelolaan sampah mulai dari hulu sampai dengan proses akhir yang telah diterapkan Kota Surabaya.

Kunjungan mereka ke Surabaya langsung diterima Risma di Balai Kota Surabaya, Senin (29/7/2019).

Dalam kesempatan itu, Ketua Fraksi Nasdem DPRD Provinsi DKI Jakarta Bestari Barus mengatakan, banyak hal yang patut ditiru dari teknologi pengelolaan sampah yang telah diterapkan di Surabaya.

Salah satunya, kata dia, bagaimana mengelola sampah dengan anggaran terbatas.

%d blogger menyukai ini: