29 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kualitas Udara Jakarta Buruk, Pemprov DKI: Pengaruh Pembangunan Trotoar

Berita ini diberdayakan untuk dw.com

Oleh : dw.com

Bersadarkan data AirVisual hari Senin (29/07), Indeks Kualitas Udara di Jakarta mencapai angka 188 dan tertinggi di dunia. Data ini menunjukkan bahwa kualitas udara Jakarta tidak sehat.


© DetikCom/M.ridho suhandi Provided by Deutsche Welle

Jakarta menjadi kota paling berpolusi di dunia versi AirVisual pagi ini. Jakarta menempati peringkat teratas dengan kondisi udara tidak sehat.

Dilansir AirVisual di situsnya, Senin (29/7/2019) pukul 06.10 WIB, Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 188. Artinya kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Ranking polusi ini tidak tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu.

AQI merupakan indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu daerah. AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Rentang nilai dari AQI adalah 0 sampai 500. Makin tinggi nilainya menunjukkan Makin tinggi tingkat polusi udara di wilayah tersebut. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 berarti moderat, 101-150 tidak sehat bagi orang yang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berarti berbahaya.

AQI 188 di DKI Jakarta berarti kualitas udara di ibu kota tidak sehat (unhealthy). AirVisual merekomendasikan agar kelompok sensitif mengurangi aktivitas di luar ruangan. Setiap orang perlu mengenakan masker polusi. Ventilasi tidak dianjurkan. Pemurni udara perlu dinyalakan bila udara dalam ruangan tidak sehat

Setelah Jakarta global, Tashkent (Uzbekistan) menempati menempati posisi kedua kota berpolusi pagi ini dengan AQI 173.

Lalu diikuti Dubai (United Arab Emirates), Tehran (Iran), dan Johannesburg (South Africa).

Penjelasan Pemprov DKI soal Kualitas Udara Ibu Kota

Pemprov DKI menyebut, proyek pembangunan trotoar yang dimaksud berada di Jalan MH Thamrin ataupun Cikini. Proyek inilah yang dinilai menghasilkan debu-debu sehingga memperburuk kualitas udara.

“Saya kemarin dapat laporan dari teman-teman Laboratorium LH, di seputaran Thamrin itu lagi pembenahan trotoar…. Kebetulan titik kami pun termonitor, pengukuran Dinas LH itu. Jadi akan berpengaruh,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Andono Warih, Kamis (25/7).

“Sekarang sedang ada (pembangunan trotoar), di Cikini juga dilihat. Dari sumber primer sendiri bikin debu, sekunder juga nambah kemacetan kan asap lebih banyak. Kan di titik itu saat ini tentu akan ada peningkatan sementara ini,” sambungnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum menjelaskan solusi terkait polusi udara yang makin parah. Anies berjanji akan menjelaskannya segera.

“Selama masih musim panas, kita akan masih menyaksikan seperti ini (polusi tinggi). Nanti saya akan jelaskan lebih lengkap lagi,” kata Anies kepada wartawan di SMA Kolose Kanisius, Jakarta Pusat, Jumat (26/7).


© DetikCom/M.ridho suhandi Polusi udara di Jakarta

Kualitas Udara Belum Membaik

Jakarta masih menjadi kota paling berpolusi di dunia versi aplikasi pemantau udara AirVisual. Kondisi Jakarta siang ini tampak berkabut.

Kondisi berkabut itu terlihat dari atas perkantoran. Pandangan mata sedikit kabur.

Dilansir AirVisual di situsnya, Senin (29/7/2019) 12.54 WIB, Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 175. Artinya kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Ranking polusi ini tidak tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu.

vv/na (detiknews)

%d blogger menyukai ini: