25 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Amnesty Bawa Kasus Novel ke Kongres AS, Ngabalin: It’s Okay, Namanya Usaha

Berita ini diberayakan untuk detik.com

Oleh : Dwi Andayani – detikNews


Foto: Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin. (Noval-detikcom)

Jakarta – Pihak Istana mengaku tak masalah soal Amnesty International yang membawa kasus teror penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan ke Kongres Amerika Serikat (AS). Menurut Istana, hal itu sebagai salah satu bentuk usaha.

“Untuk kasus ini saya kira kalau lembaga-lembaga negara tidak fungsi, mungkin saja. Tapi it’s okay, namanya juga usaha,” ujar Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, Kamis (25/7/20019).

Namun, Ngabalin menilai bila negara masih mampu menangani kasus Novel maka tidak perlu dibawa dalam Kongres AS. Menurunya, masyarakat perlu percaya kepada kinerja institusi negara.

“Itukan institusi negara. Kalau institusi negara kerja kita tidak percaya mau percaya ke siapa lagi?” ujar Ngabalin.

Dia menyebut kepercayaan perlu diberikan kepada para penegak hukum dalam menuntaskan kasus ini. Dia berharap semua pihak memberi kepercayaan penuh kepada aparat untuk menemukan fakta yang akuran terkait teror air kerasa kepada Novel.

“Sebagai warga negara yang baik, kita juga berikan kepercayaan sepenuhnya pada institusi negara penegak hukum dan aparat hukum untuk bisa menemukan fakta dan data yang akurat dalam menentukan siapa otak dari peristiwa yang dihadapi Novel Baswedan,” kata Ngabalin.

Ngabalin pun menyebutkan upaya yang telah dilakukan kepolisian dalam mengungkap teror terhadap Novel. Salah satunya lewat pembentukan tim pencari fakta (TPF) yang dinilainya independen karena turut melibatkan unsur dari luar kepolisian.

“Itu artinya bahwa mengungkapkan kasus ini kan butuh fakta dan data yang akurat, yang tidak diragukan kebenarannya. Maka tidak ada alasan lain kecuali kita memberikan kepercayaan kepada Kepolisian negara, untuk bisa bekerja sesuai perintah bapak Presiden untuk mengungkapkan suatu kasus yang sesungguhnya, siapa yang dibaiknya dan seterusnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Amnesty International membawa kasus Novel ke dalam sesi dengar pendapat di Kongres AS. Kasus itu menjadi salah satu kasus yang dibawa ke Kongres AS bersama kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya.

Pemaparan soal kasus Novel ini disampaikan Francisco Bencosme selaku Manajer Advokasi Asia Pasifik Amnesty International USA saat membacakan testimoni bertajuk ‘Human Rights in Southeast Asia: A Regional Outlook’ di Subcommittee on Asia, the Pacific, and Nonproliferation House Foreign Affairs Committee’.

Kasus-kasus HAM lain yang turut dibawa Francisco seperti dugaan pelanggaran HAM terkait ‘perang melawan narkoba’ di Filipina yang digaungkan Presiden Rodrigo Duterte hingga persoalan Rohingya dari Rakhine State di Myanmar.

“Para penyidik di KPK dan aktivis yang juga pejuang HAM di Indonesia telah menjadi sasaran ancaman dan kekerasan berkaitan dengan kegiatannya, yang jarang terselesaikan kasusnya,” ucap Francisco.

“Kegagalan pengusutan intimidasi terhadap aktivis antikorupsi dan HAM ini telah melemahkan upaya pemberantasan korupsi, yang membuat negara gagal melindungi dan memenuhi HAM kepada warga negaranya,” imbuh Francisco.

Kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel ini sendiri terjadi pada 2017. TPF kasus Novel yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun telah memaparkan hasil investigasi mereka selama 6 bulan, namun belum juga menyebutkan siapa pelaku teror air keras itu.(dwia/haf)

%d blogger menyukai ini: