29 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Selain Red Notice dan DPO, Polisi Lacak Jejak Digital Honggo

Jakarta – Timurmerdeka.com. Upaya pihak Polri dalam melacak jejak digital tersangka (TSK) kasus korupsi kondensat PT TPPI, Honggo Wendratmo itu sepatutnya diacungkan jempol. Pasalnya. Dalam melacak TSK dilakukan berbagai cara.  Hal ini dikarenakan polisi tak kunjung menemukan Honggo, baik di Indonesia, maupun di negara Singapura. Negara itu, semula diduga keras menjadi tempat persembunyian TSK.

“Keberadaan yang bersangkutan sekarang lebih gampang untuk dilacak, karena bisa meninggalkan jejak-jejak digital bila menggunakan elektronik HP misalnya. Mudah-mudahan bisa kita ketahui keberadaannya”,  kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul di Mabes Polri, Jl Trunojoyo Kebayoran Baru Jakarta Selatan hari Jumat (19/1/2018).

Pencarian Honggo melalui jejak digital dilakukan bersamaan dengan Polri menunggu hasil pencarian melalui red notice yang sudah diterbitkan Interpol sejak 2017 lalu.

“Jaringan kepolisian kita ada di mana-mana. Tentu Nanti kita bisa minta kepolisian negara lain supaya bisa membantu guna menghadapkan dan menyerahkan kepada Polri”, ujar Martinus.

Martinus juga telah mengatakan jika Honggo belum juga tertangkap, maka pelimpahan tahap II kasus korupsi kondensat PT TPPI akan dilakukan tanpa Honggo atau status Honggo dalam perkara ini in absentia.

Kejaksaan Agung dapat menerima perkaranya, meskipun tanpa Honggo, lanjut Martinus, maka Kejaksaan Agung perlu mengetahui upaya-upaya kongkret pihak kepolisian, apa saja yang telah dilakukan.

“Kami tentu serahkannya secara in absentia. Tetapi kan jaksa perlu mengetahui, langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak Polri, apa saja, sehingga bisa diterima berkas perkara itu, karena berkas perkaranya sudah lengkap. Sehingga tersangka dan barang bukti, bisa diterima walaupun, in absentia”, jelas Martinus.

“Jaksa penuntut umum sebagai peneliti BAP terhadap kasus ini, ingin ketahui langkah-langkah yang dilakukan Polri. Nah ini kita sampaikan kepada teman-teman wartawan bahwa langkah-langkah yang dilakukan sudah memenuhi”, sambung Martinus.

Sebelumnya pihak Bareskrim Polri batal melimpahkan barang bukti dan tersangka perkara korupsi kondensat PT TPPI. Alasannya, pihak Polri ingin dalam proses pelimpahan barang bukti dan tersangka secara lengkap.

Telah diketahui terdapat tiga tersangka dalam kasus ini, yaitu Kepala BP Migas Raden Priyono, mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono, dan Dirut PT TPPI Honggo Wendratmo.

Ironinya, di saat hendak pelimpahan tahap II kasus tersebut yang ada, hanya Raden Priyono dan Djoko Harsono yang memenuhi panggilan kepolisian, sementara Honggo mangkir dan kabur.

Semula Honggo dikabarkan berada di Singapura, karena sedang berobat. Namun setelah dicari ke negeri Singa itu, polisi tak mendapatinya. Diduga Ia kabur ke negara lainnya.

Para tersangka dalam itu, di jerat dengan Pasal 2, atau pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20/2001, tentang perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Gin/aud/dhn).

%d blogger menyukai ini: