21 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Eksklusif: Bos KS Jelaskan Pabrik yang Bikin Komisaris Mundur

Berita ini diberdayakan untuk kumparan.com

Oleh : Dewi Rachmat Kusuma

Komisaris PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) Roy Edison Maningkas, mengundurkan diri. Pengunduran diri tersebut disampaikan secara terbuka, Selasa (23/7).

Pembangunan dan pengoperasian fasilitas produksi baru di Krakatau Steel (KS), yakni pabrik Blast Furnace, menjadi alasan pengunduran dirinya. Dia menilai, pembangunan pabrik itu kemahalan hingga kelebihan anggaran sebesar Rp 3 triliun menjadi Rp 10 triliun dari seharusnya Rp 7 triliun. Akibatnya, harga produknya juga lebih mahal dari harga sejenis di pasaran.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network

“Which is kalau produksi 1,2 juta ton, kita akan mengalami kerugian Rp 1,2 triliun. Kemudian tiba-tiba bulan lalu, sebulan lalu lah, di rapat BOD BOC diputuskan bahwa fasilitas ini akan segera beroperasi. Saya langsung menyampaikan tidak setuju dan menyampaikan dissenting opinion,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama KS Silmy Karim menyatakan, masalah pabrik Blast Furnace tak sesederhana yang diungkapkan Roy. Apalagi saat Silmy memimpin KS sejak September 2018 lalu, emiten berkode KRAS itu juga masih dibelit kerugian dan masalah keuangan.

Berikut penjelasan Silmy kepada Ema Fitriyani, reporter kumparan:


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim di kantornya, Selasa (23/7/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Pak Roy Maningkas mengundurkan diri dari Komisaris Krakatau Steel. Apakah sebelumnya direksi sudah tahu?

Saya menerima tembusan (surat pengunduran diri) dari Pak Roy. Terus tadi malam beliau kontak saya dan waktu beliau sampaikan surat pengunduran diri (yang) disampaikan ke saya waktu itu.

Pak Roy beberkan alasan pengunduran dirinya karena enggak setuju dengan proyek pabrik Blast Furnace (BF). Dia bilang bakal merugikan negara. Tanggapan Anda?

Gini, proyek BF ini sudah dirancangkan jauh sebelum saya masuk (jadi Dirut KS). Jadi saya di KS itu salah satunya ditugaskan untuk menyelesaikan dan menjalankan fasilitas ini. Mengenai kerugian negara, saya rasa terlalu cepat disimpulkan. Saya saja yang tidak ada tanggung jawab dalam konteks proyek ini, membutuhkan performance test, suatu proses tambahan.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Baja produksi Krakatau Steel. Foto: Dok. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

Kata Pak Roy, pabrik ini hanya dioperasikan dua bulan setelah peresmian. Habis itu dimatikan. Betul begitu?

Ini kan proyek sudah lama. Delay. Terus kemudian saya selesaikan (akhir 2018). Lalu dijalankan. Ini kan sekarang lagi dilihat performance test-nya bagaimana. Performance test kan bisa dua atau tiga bulan. Tapi proyek ini harus ditutup. Saya ulangi, bukan ditutup, dituntaskan.

Katanya pabrik BF Itu jadi salah satu catatan audit BPK di KS?

Saya wajib di pimpinan KS untuk selesaikan atau tindaklanjuti temuan BPK yang tadinya itu… yang tadinya ada titik-titik, saat ini tinggal sembilan (temuan). Jadi yang tadinya ada titik-titik banyak, berapa puluh temuan, dalam periode kepemimpinan saya sudah turun tinggal sekian poin.

Memang saya ingin tindak lanjuti. Bukan kemudian alasan ini sepotong-sepotong, kalau tidak dinyalakan begini… Permasalahan KS kan banyak. Tapi ada prioritas yang harus diselesaikan. Salah satunya BF. Ya sudah dong, diselesaikan proyeknya. Dioperasikan. Performance test dulu. Ini kan lagi masa trial, performance test. Saya lupa detailnya, sequence nya apa. Sambil (ada) pernyataan bahwa lebih mahal sekian dolar ketika dioperasikan, ini kan harus dibuktikan.

Yang dibilang Pak Roy kerugian Rp 1,2 triliun per tahunnya itu bagaimana?

Saya enggak yakin tuh… wartawan (yang bilang) kali tuh.

Tadi pernyataan Pak Roy itu lho Pak…

Saya enggak mau masuk ke sana dulu karena harus dibuktikan.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Pipa baja Krakatau Steel Foto: Siti Maghfirah/ kumparan

Jadi sebenarnya proyek BF berhenti atau enggak?

Dulu itu kan selesai proyek terus jalankan parsial performance test. Kita tuh baru kira-kira bulan lalu menjalankan BF-nya. Bulan lalu.

Kata Pak Roy ini proyek besar yang cuma dioperasikan dua bulan?

Siapa yang bilang dua bulan. Saya bilang ini performance test.

Jadi berarti blm full operasi?

Harus dibedakan proyek BF ini, antara pengerjaan proyeknya dan pengoperasiannya.

Maksudnya?

Kalau proyeknya (dianggap) bermasalah kan ada BPK yang memeriksa.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Baja produksi Krakatau Steel. Foto: Dok. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

Jadi bisa dibilang sekarang KS lagi benahi BF ini, salah satunya menyelesaikan temuan BPK. Begitu?

Jangan dikaitkan BPK, nanti bingung. Begini… kita ulang. Ini ada proyek delay, enggak selesai. Agak mangkraklah. Targetnya itu selesai 2015 tapi mundur sampai 4 tahun. Nah saya datang (Menjabat Dirut KS) September 2018. (Soal pabrik BF ini) langsung jadi fokus. Ayo kita selesaikan. Desember selesai dalam hal mechanical accomplishment. Terus kita ingin jalankan itu, tentunya ada persiapan. Nah kemudian kita putuskan jalan. Safety dan lain-lain diberesin. Sudah kita jalankan nih mulai dua minggu lalu atau 10 harilah. Jadi kita discharge material dan sebagainya. Sebenarnya sampai situ enggak ada isu apa-apa. Jadi yang menurut saya, yang (bilang) operasional cuma 2-3 bulan siapa? Performance test itu 2 sampai 3 bulan. Ya kita jalanin aja. Kalau memang mahal, ya enggak usah dioperasikan. Kalau murah diteruskan. Gampang kan?

Hasil performance test-nya bagaimana?

Belum selesain kan perlu waktu 2 sampai 3 bulan.

Kalau misal performance test-nya selesai ini bagaimana kelanjutannya?

Sebelum proyeknya selesai, saya konsultasi dulu sama BPK. Kalau ini biaya operasionalnya mahal, enggak sesuai dengan perencanaan awal, saya tidak operasikan ini.

Kalau enggak dioperasikan gitu, perusahaan enggak rugi? Kan sudah keluar modal banyak?

Ya kan ini menyangkut teknologi juga. Kita ada pihak yang assessment. Kita udah tahu nih harusnya BF seperti apa. Untuk buktikan proyeknya rugi atau enggak, harus dijalanin. Kalau enggak, proyeknya gantung terus.

Setelah ini beres, ya sambil kita lihat. Kita libatkan nanti BPK karena mereka yang ikutin proyek ini dari awal. Oh misal ini enggak untungkan atau gimanalah nanti, pihak ketiga yang lakukan assessment. Kemudian, kalau memang butuh tambahan fasilitas… Ini kan yang buat tidak efisien karena masih akan gunakan gas.


© Disediakan oleh PT. Dynamo Media Network Baja Krakatau Steel Foto: Siti Maghfirah/ kumparan

Maksudnya bagaimana?

Jadi di sistem yang ada saat ini ada peran penggunaan gas. Sehingga buat operasi BF ini ada kemungkinan enggak efisien. Padahal lazimnya BF itu hanya gunakan batu bara. Tapi ini disambung dengan proses lama yang masih gunakan gas. Harusnya proses BF ini dari batu bara. Cukup dengan batu bara. Ini enggak efisien.

Jadi proyek pabrik BF ini dilema ya Pak. Dijalankan salah, dihentikan juga salah?

Saya tidak bilang BF ini proyek ideal, dalam artian smooth lancar dari awal tender, financing dan sebagainya. Manajemen baru menyelesaikan dan melaksanakan operasi sampai tes tes yang diperlukan sehingga proyek ini bisa selesai, siap dioperasikan.

Kemudian kita tahu bukan hanya asumsi. Proyek ini dirancang atas studi kelayakan saat dulu. Tapi kemudian proyek delay. Apakah masih sesuai dengan perhitungan itu? Kan harus dibuktikan. Ini tahapan yang harus dilalui. Jadi tidak betul hanya dioperasikan sekian bulan.

%d blogger menyukai ini: