7 Juli 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Perusahaan Tekstil Terbesar Indonesia Gagal Bayar Bunga Obligasi, Bank Mandiri Kaget

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Erlangga Djumena


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo.

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Delta Merlin Dunia Textile, yang merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia secara mengagetkan tidak bisa membayar bunga obligasinya yang jatuh tempo pada 10 Juli 2019. Padahal entitas anak usaha Duniatex Group itu baru 4 bulan lalu menerbitkan obligasi senilai 300 juta dollar AS tersebut.

Gagal bayar kupon obligasi itu tak hanya mengagetkan investor, tetapi juga perbankan. Pasalnya, rekam jejak perusahaan ini ke para kreditornya terbilang baik-baik saja.

Salah satunya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100). yang memiliki eksposure pinjaman bilateral ke Duniatex Grup.

“Kami juga kaget dengan berita itu,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmojo seperti dikutip dari kontan.co.id, Selasa (23/7/2019).

Menurut Tiko, panggilan akrabnya, selama ini Duniatex belum pernah menunggak sekalipun dalam pembayaran kreditnya. Bank Mandiri sempat memiliki eksposure kredit sampai Rp 5,5 triliun untuk pengembangan usaha salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia.

Namun sejak 2015, Bank Mandiri sudah melakukan penurunan eksposure kredit ke Duniatex, seiring perusahaan ini juga melakukan penurunan kewajibannya. Hingga akhir Desember 2018, kredit Bank Mandiri di grup ini sudah terpangkas menjadi tinggal Rp 3,5 triliun.

“Saat ini tersisa Rp 2,2 triliun, karena tujuh bulan yang lalu, mereka melakukan pembayaran Rp 1,24 triliun,” ujar Tiko.

Tak ingin berspekulasi terhadap kondisi perusahaan tersebut, manajemen Bank Mandiri kini dalam proses meminta keterangan atas kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan tekstil yang bermarkas di Solo, Jawa Tengah ini.

Tiko pun memastikan bahwa Bank Mandiri memiliki jaminan mesin dan tanah yang memadai atas kredit ke perusahaan yang dimiliki oleh Hartono ini, pengusaha gaek asal Solo ini.

“Proses negosiasi restrukturisasi secara bilateral dengan debitor kini tengah dilakukan, “ ujar Tiko.

Sementara Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan bahwa proses meminta penjelasan atas kondisi terkini dari Duniatex tengah dilakukan.

“Dengan tahu apa masalahnya kami bisa memberikan ‘obat’ yang seuai dengan masalah perusahaan, apakah restrukturisasi, pelonggaran pembayaran, pelunakan atau size streaming atas kreditnya,” ujar Rohan.

Jika merujuk analis meeting Bank Mandiri pada 17 Juli 2019 lalu, Bank Mandiri mengaku telah menyiapkan cadangan atas exposure kreditnya yang berasal dari aset tetap Duniatex yang dijaminkan atas utangnya dengan rasio mencapai 160 persen dari total utang. Bank Mandiri juga mengaku sudah bertemu dengan Duniatex sejak pekan lalu.

Tak hanya Bank Mandiri. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) juga tercatat memiliki eksposur kredit ke Duniatex.

Bank BNI disebut memiliki eksposur kredit senilai Rp 789 miliar. Meski memiliki tagihan dalam kredit sindikasi ke Duniatex, namun manajemen Bank BNI menampik jumlahnya segede Rp 789 miliar.

“Porsi BNI dalam sindikasi tersebut Rp 301 miliar,” kata Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan.

Namun Putrama enggan menjelaskan kondisi kredit itu.

Publik memang dibuat terkejut dengan kasus gagal bayar obligasi anak usaha Duniatex Grup, PT Delta Merlin Dunia Textile. Pasalnya, kegagalan terjadi hanya empat bulan berselang pasca penerbitan obligasi perusahaan ini sebesar 300 juta dollar AS. Bertenor lima tahun, obligasi Delta Merlin ini menjanjikan kupon sebesar 8,625 persen.

Tak hanya itu, dua perusahaan pemeringkat, Fitch Ratings dan Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings menyematkan obligasi Delta Merlin dengan peringkat awal di posisi BB-. Kala itu, Fitch beralasan, peringkat awal Delta Merlin itu didorong oleh posisinya sebagai perusahaan tenun terbesar di Indonesia, struktur biaya yang rendah, serta hubungannya yang mapan dengan pelanggan.

Peringkat tersebut, kata Fitch dengan asumsi mengasumsikan bahwa Delta Merlin akan mengumpulkan dana yang cukup dari penerbitan obligasi untuk membiayai kembali berbagai fasilitas kredit dari perbankan.

Sementara S&P Global Ratings juga menilai Delta Merlin sebagai anak usaha inti Duniatex memiliki profil kredit mandiri yang kuat. Kontribusi pendapatan dan laba yang ke Duniatex Group, induk usaha substansial.

Pekan lalu, akhirnya dua lembaga pemeringkat S&P dan Fitch memangkas peringkat kredit obligasi dolar yang dijual oleh anak perusahaan Duniatex Group itu. S&P memangkas menjadi menjadi CCC-(junk bond), dari sebelumnya BB-. Tantangan likuiditas yang signifikan menjadi masalah anak usaha perusahaan tekstil yang bermarkas di Solo, Jawa Tengah ini.

Adapun Fitch Ratings juga memangkas skor kredit Delta Merlin Dunia Textile menjadi B- dari sebelumnya BB-. Ini mencerminkan peningkatan pembiayaan kembali dan risiko likuiditas. Fitch menyebut, perusahaan ini menghadapi efek tular dari afiliasi yang dapat membatasi akses perbankan dan pasar modal. (Titis Nurdiana)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Bank Mandiri kaget anak usaha Duniatex gagal bayar kupon obligasi

%d blogger menyukai ini: