1 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Tak Harus seperti Nunung, 5 Cara Menjaga Stamina Tanpa Narkoba

Berita ini diberdayakan untuk kompas.com

Oleh : Gloria Setyvani Putri

KOMPAS.com – Banyak fenomena publik figur yang terjaring polisi karena mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu demi meningkatkan stamina.

Seperti peristiwa yang terjadi pada Minggu (20/7/2019) ini, misalnya, komedian Tri Retno Prayudati atau biasa dikenal dengan Nunung Srimulat tertangkap menggunakan narkotika jenis sabu untuk meningkatkan stamina.

Sebelumnya, presenter Reza Bukan juga pernah terjaring polisi karena kasus narkoba.

Bahkan, aktor senior Roy Marten pun telah dua kali tertangkap polisi karena terjerat penyalahgunaan narkotika jenis sabu.

Lalu, apakah sabu memang dapat meningkatkan stamina?


© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Komedian Nunung

Melansir Hello Sehat, narkotika berbentuk seperti kristal putih ini memang salah satu jenis obat stimultan yang sangat adiktif, dan secara kimiawi mirip dengan amfetamin.

Oleh karena itu, mereka yang memakainya seringkali merasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, dan hubungan dengan orang lain menjadi akrab.

Namun, hal ini bisa menyebabkan kita tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat.

Merokok atau menyuntikan sabu dapat memberikan efek yang sangat cepat pada otak dan akan menghasilkan euforia yang intens.

Karena euforia yang dihasilkan bersifat instan, maka pengguna sering memakainya berulang kali.

Apa efek pemakaian sabu?

Secara umum, efek sabu jangka pendek dapat menyebabkan insomnia, hilangnya napsu makan, euforia dan sikap terburu-buru, denyut jantung cepat dan tidak teratur, serta hipertermia.

Untuk jangka panjang, pemakaian shabu dalam jangka panjang dapat menyebabkan kecanduan kronis disertai perubahan fungsional dan molekul dalam otak.

Ketika tidak mengonsumsi shabu, pengguna akan mendapatkan gejala depresi, cemas, lelah, dan keinginan kuat untuk mengonsumsi obat.

Inilah yang membuat mereka sulit melepaskan diri dari kecanduan dan akan selalu mengambil dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang diinginkan.

Pemakaian sabu jangka panjang juga akan memengaruhi sel-sel mikroglia, yang mendukung kesehatan otak.

Kerusakan pada sel tersebut akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak. Riset juga menunjukan pengguna sabu berisiko tinggi mengalami gangguan parkinson. Secara rinci, efek sabu jangka panjang sebagai berikut:

Secara umum, berikut efek shabu jangka pendek:

Insomnia.

Hilangnya napsu makan.

Euforia dan sikap terburu-buru.

Denyut jantung cepat dan tak teratur.

Hipertermia

Kesibukan sehari-hari memang sengat menganggu stamina kita. Namun, mengonsumsi shabu-shabu bukanlah jawaban untuk menjaga stamina kita. Nah, agar stamina tetap terjaga tanpa menimbulkan efek samping, berikut tipsnya:

1. Tetap aktif bergerak

Banyak penelitian membuktikan, tubuh yang aktif bergerak akan memicu peningkatan energi. Itu sebabnya, orang yang aktif secara fisik biasanya tidak gampang lelah.

Direktur fisiologi di Johns Hopkins University School of Medicine, Kerry J. Stewart, berpendapat tubuh yang aktif bergerak dapat meningkatkan kualitas hidup. Bahkan efisiensi kerja jantung, paru-paru, dan otot juga akan semakin membaik berkat aktivitas fisik.

2. Luangkan waktu berada di luar ruangan

Jika kita lebih sering menghabiskan waktu dalam ruangan, luangkan waktu sejenak untuk menikmati hangatnya sinar matahari.

Jeffrey Durmer, kepala petugas medis di FusionSleep Center, Atlanta, menjelaskan pancaran sinar matahari dapat menstimulasi pada kerja otak, guna memberi isyarat pada tubuh untuk meningkatkan energinya.

Sinar matahari dapat menghentikan produksi hormon melatonin, yakni hormon yang memicu rasa kantuk. Akhirnya, tubuh akan merasa lebih bertenaga dan tidak mudah lelah.

3. Penuhi cairan tubuh

Kekurangan cairan dapat memecah persediaan energi dan mengacaukan kerja tubuh, sehingga kita jadi merasa mudah lelah, tidak bersemangat dan sulit berkonsentrasi.

Air mendukung kerja seluruh organ dalam tubuh, termasuk otak. Itu sebabnya, ketika kebutuhan cairan tidak terpenuhi dengan baik, maka otak tidak dapat bekerja secara optimal.

4. Kenali jam tubuh

Salah satu penyebab kelelahan yang paling sering terjadi yakni karena terlalu memforsir kerja tubuh. Memang, terkadang sulit bagi kita untuk menyadari kapan tubuh telah berada di batas kemampuannya.

Kita harus benar-benar mengenali jam tubuh kita sendiri. Misalnya, saat siang hari konsentrasi dan tenaga mulai hilang, berarti kita harus mengisi energi dengan makan siang secukupnya.

Menunda jam makan akan membuat kita kelaparan, yang akan membuat kita makan dalam porsi tak terkontrol dan memicu kantuk.

Beri jeda di tengah-tengah kegiatan dengan sekadar duduk santai, menutup mata sejenak, dan biarkan pikiran rileks.

Meski kesannya sepele, cara ini bisa membantu menjaga stamina di tengah-tengah padatnya aktivitas. Tidur yang cukup di malam hari supaya badan dan pikiran lebih segar.

5. Disiplin soal makan

Makanan berfungsi menyuplai energi utama yang nantinya akan dimanfaatkan tubuh untuk beraktivitas.

Saat tubuh telah bekerja keras dalam beberapa jam, maka perlu asupan makanan untuk mengembalikan energi.

Jika tidak terpenuhi tepat waktu, cadangan energi sudah semakin terkuras. Akibatnya, kita akan mudah lelah.

Kita juga harus memenuhi asupan nutrisi dari berbagai sumber makanan sehat, termasuk protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang tepat.

%d blogger menyukai ini: