26 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Meneropong Potensi Ikan Tuna Busel, Harga Tuna Nelayan Di Mainkan Cukong

Ikan tuna diwilayah perairan Buton dan laut Banda, potensinya rata-rata bekisar 5 ton, setiap harinya. Namun sayangnya nelayan menjadi kesal, karena oknum-oknum Cukong penimbang daging ikan (Tuna Loin) memainkannya.

 Selain harganya sangat murah, juga peralatan timbangannya diduga banyak yang tidak benar, sesuai tera timbangan.

Bagaimana hasil teropong tim timurmerdeka.com.

Laporan : Gino Samsudin.

Potensi Sumber Daya Kelautan Perikanan daerah Busel, terutama ikan tuna, akhir-akhir ini meningkat tajam hingga nelayan paling sedikit 3 ekor tuna yang berhasil ditangkapnya setiap hari.

Ironinya, hasil tangkapan nelayan itu, meskipun terbilang jutaan rupiah, namun hanya cukup untuk modal BBM nya saja.

Hal ini disebutkan, karena oknum cukong, memainkan harga ikan tuna yang bernilai ekonomi tinggi itu. Demikian dikatakan warga nelayan Lande Desa Gerakmakmur Kecamatan Sampolawa Busel La Suwardi pada media ini via ponselnya Minggu (21/1/2018).

Menurutnya, ikan tuna yang ditangkap para nelayan itu, memiliki berat rata-rata 100 kg perekornya. Ironinya, meskipun begitu, hasil tangkapan nelayan, namun begitu di “Loin”, atau daging tuna, ketika di timbang menjadi sangat susut dan jauh dari harapan nelayan.

Menyinggung tentang harga Tuna Loin di wilayah teluk lande, Suwardi menjelaskan, harganya hanya kisaran Rp 40 ribu/kg. Karena itu, diminta pihak yang berwajib, agar dapat diberikan solusi, guna harga tuna tersebut, dapat disejajarkan dengan daerah lain seperti di Makassar atau daerah lainnya.

“Kami minta harga ikan tuna dapat disejajarkan dengan Makassar”, ujarnya.

Suwardi menambahkan harga tuna menjadi satu-satu harapan mata pencaharian nelayan di daerah itu, hendaknya dapat dinetralisir minimal mendekati harga-harga daerah lainnya.

Nelayan Lande melaut hingga 70 mil dari bibir pantai pulau Buton itu, selain penuh dengan resiko antara hidup dan mati ditengah lautan, juga bertarung dengan ganasnya ombak laut, seperti dimusim barat saat ini.

“Nelayan ikan tuna Lande, minta para pihak dapat memberikan solusi, guna mengatasi para cukong pembeli ikan tuna, kami nelayan yang melaut antara hidup dan mati, sepatutnya dicarikan solusi agar harganya bisa mengimbangi harga BBM”, katanya.

Menyinggung tentang harga ikan tuna di Makassar, papar Suwardi, Makasar memberikan harga pada nelayan antara Rp 80-100 ribu/kg.Kenapa didaerah ini kecil sekali dibandrol harganya.

“Makassar harga ikan tuna, antara Rp 80 hingga 100 ribu/kg. Kenapa di sini (Lande) murah sekali”, kesalnya.

Senada dengan itu, La Mahudi asal desa Lande, menyebutkan, harga tuna sangat murah. Padahal, sekali melaut paling sedikit modalnya Rp 500 ribu, BBM (bahan bakar Minyak) paling sedikit 4 gen. belum lagi modal lainnya seperti Es Batu, itu juga tidak cukup Rp 50 ribu.

“Modal nelayan untuk melaut paling sedikit Rp 500 ribu.Itupun kami masih utang.Akhirnya nelayan lande terus gali lobang tutup lobang”, tukasnya.

Tokoh Masyarakat Lande La Pena, menyikapi ketidak adilan terhadap nelayan itu, meminta kepada semua yang berkompeten terutama pihak Dinas Kelautan dan perikanan Busel agar dapat memberikan solusi.

Sementara itu, para Cukong yang disebut-sebut nelayan Lande La jumadi, menyebutkan, harga tuna itu sudah sesuai apa yang diberikan oleh Bos Makassar, pihaknya hanya mendapat komisi dari Bos Makassar.

“Saya hanya mendapat komisi dari Bos Makassar. Harga tuna, memang bervariasi, tergantung harga dollar”, katanya.

Pihak perikanan Busel yang dihubungi secara terpisah Ir Heru Sungkowo menjelaskan, harga tuna itu, sedang dijajaki, mudah-mudah dalam waktu dekat ini akan ada buyer dari Bali atau dari daerah yang memiliki capital.

“Kami sedang berupaya memberikan solusi kepada nelayan Tuna, kita menungguh saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini aka nada solusi”, katanya.

Menyimak hasil ikan tuna tangkapan nelayan di teluk lande itu, semua pihak diwilayah itu mengharapkan adanya buyer yang bisa memberikan solusi sekaligus adanya penampungan BBM terutama solar.

Hal ini sudah cukup lama dikeluhkan masyarakat nelayan.Namun karena tidak pernah terekspos sehingga nelayan Lande hanya bisa pasrah.(*****).

%d blogger menyukai ini: