21 Oktober 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Potensi Hasil Ikan Tuna Busel, Di Mainkan Cukong

Batauga-Timurmerdeka.com. Potensi dan hasil ikan tuna di perairan Kabupaten Buton Selatan (Busel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), akhir-akhir ini meningkat tajam hingga nelayan paling sedikit 3 ekor tuna yang berhasil ditangkapnya setiap hari. Ironinya, dan sangat disayangkan, karena hasil tangkapan nelayan itu, hanya cukup untuk modalnya melaut saja.

Hal ini disebutkan, karena para penimbang alias cukong memainkan harga ikan yang bernilai ekonomi tinggi itu. Demikian dikatakan salah satu warga nelayan Lande Desa Gerakmakmur Kecamatan Sampolawa Busel La Suwardi kepada media ini via ponselnya Minggu (21/1/2018).

Menurutnya, ikan tuna yang telah di “Loin”, atau daging tuna itu, ditimbang di wilayah teluk lande hanya seharga Rp 40 ribu/kg. Karena itu, diminta kepada pihak yang berwajib agar harga tuna tersebut, dapat disejajarkan dengan daerah lain seperti di Makassar misalnya.

“Kami minta agar harga ikan tuna dapat disejajarkan dengan Makassar”, ujarnya.

Nelayan Lande ketika mendapat ikan, sementara di Loin daging tunanya, namun sayangnya hanya menguntungkan Cukong saja. (Foto. Gino).

Suwardi menambahkan harga tuna yang menjadi satu-satu harapan nelayan tuna di daerah itu, hendaknya dapat dinetralisir. Hal ini dimaksudkan karena nelayan Lande yang melaut hingga 70 mili laut dari bibir pantai itu, penuh dengan resiko antara hidup dan mati, karena bertarung dengan ganasnya ombak laut dimusim barat seperti ini.

“Nelayan Lande minta agar para pihak dapat memberikan solusi, karena kami nelayan melaut antara hidup dan mati”, katanya.

Menyinggung tentang harga ikan tuna di Makassar, papar Suwardi, Makasar memberikan harga pada nelayan antara Rp 80-100 ribu/kg. Kenapa didaerah ini kecil sekali dibandrol harganya.

“Makassar harganya antara Rp 80 hingga 100 ribu/kg, kenapa di sini murah sekali”, kesalnya.

Senada dengan itu, La Mahudi juga asal desa Lande, menyebutkan, harga tuna di Lande sangat murah. Padahal, sekali melaut paling sedikit modalnya Rp 500 ribu, karena BBM (bahan bakar Minyak) solarnya paling sedikit 4 gen. belum lagi modal lainnya seperti Es Batu, itu juga tidak cukup Rp 50 ribu.

“Modal nelayan untuk melaut paling sedikit Rp 500 ribu. Itupun kami masih utang. Akhirnya nelayan lande terus gali lobang tutup lobang”, tukasnya.

Tokoh Masyarakat Lande La Pena, menyikapi adanya ketidak adilan terhadap nelayan tuna tersebut, sejumlah tokoh masyarakat nelayan Lande, meminta kepada semua yang berkompeten terutama pihak Dinas Kelautan dan perikanan Busel agar dapat memberikan solusi.

Sementara itu, para Cukong yang disebut-sebut nelayan Lande La jumadi, menyebutkan, harga tuna itu sudah sesuai dengan apa yang diberikan oleh Bos Makassar, pihaknya hanya mendapat komisi dari Bos Makassar.

“Saya hanya mendapat komisi dari Bos Makassar. Dan harga itu memang bervariasi, tergantung harga dollar”, katanya.

Pihak perikanan Busel yang dihubungi secara terpisah Ir Heru Sungkowo menjelaskan, harga tuna itu, sedang dijajaki, mudah-mudah dalam waktu dekat ini akan ada buyer dari Bali atau dari daerah yang memiliki capital.

“Kami sedang berupaya memberikan solusi kepada nelayan Tuna, kita menungguh saja, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini aka nada solusi”, katanya.

Menyimak hasil ikan tuna tangkapan nelayan di teluk lande itu, semua pihak diwilayah itu mengharapkan adanya buyer yang bisa memberikan solusi sekaligus adanya penampungan BBM terutama solar. Hal ini sudah cukup lama dikeluhkan masyarakat nelayan. Namun karena tidak pernah terekspos sehingga nelayan Lande hanya bisa pasrah. (Gin/Umi).

%d blogger menyukai ini: