21 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Berita ini diberdayakan untuk medcom.id

Oleh : Yogi Bayu Aji

Jakarta: Jakarta diprediksi akan dihantui udara tak sehat dalam beberapa hari terakhir. Pasalnya, wilayah Ibu Kota masih bercokol sebagai kota dengan kualitas udara terendah di dunia.

Berdasarkan situs Airvisual.com, Senin, 1 Juli 2019, Jakarta menempati posisi pertama dengan indeks kualitas udara (AQI) sebesar 178. AQI memiliki rentang dari 0 hingga 500. Semakin rendah AQI berarti udara sangat baik. Sebaliknya, semakin tinggi AQI berarti udara makin buruk.

Posisi Jakarta disusul Chengdu, Tiongkok, di posisi kedua dengan AQI sebesar 161. Sementara itu, Dubai, Uni Emirat Arab, ada di peringkat ketiga dengan AQI sebesar 154. AQI ketiga kota ini dikategorikan tidak sehat.

Dengan kategori ini, kualitas udara ini dianggap buruk dan dapat menyebabkan pembengkakan jantung dan paru-paru. Kelompok yang sensitif dengan udara pun berisiko tinggi untuk mengalami efek kesehatan yang buruk dari polusi udara.

Airvisual.com, laman pemantau kualitas udara, menyarankan warga yang tinggal di kota dengan kategori ini tak menjalankan aktivitas fisik di luar ruangan. Publik diminta tak membuka jendela, memakai masker, hingga menyalakan pemurni udara.

Udara buruk ini di Jakarta diproyeksi terjadi hingga Jumat, 5 Juli 2019. Kondisi udara di Jakarta pada Sabtu, 6 Juli 2019, diprediksi membaik menjadi kategori moderat. Hal ini berarti kualitas udara dapat diterima tubuh dengan sedikit risiko kesehatan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut buruknya kualitas udara Jakarta tak hanya dipengaruhi polusi udara. Kondisi ini juga dilatarbelakangi musim kemarau.

“Jadi sumbernya kemarau, sebagian dari kendaraan juga sumber polusi udara,” ujar Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan dalam pemaparannya di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Matraman, Jakarta Timur, Jumat, 28 Juni 2019.


© Yogi Bayu Aji Ibu kota masih bercokol sebagai kota dengan kualitas udara terendah di dunia.

Dodo menjelaskan sejumlah pembangunan di Ibu Kota turut menyumbang buruknya udara. Debu-debu dan material beterbangan dari hasil pembangunan proyek atau galian di sejumlah jalan.

BMKG saat ini tengah melakukan pengamatan cuaca Ibu Kota. Pengamatan fokus pada inversi. Dalam konteks hidrometerologi, inversi merupakan udara yang terperangkap dan tidak bisa naik ke ketinggian.

“Ini karena kondisi di bawahnya lebih panas dibandingkan dengan yang di atasnya, namanya inversi. Harusnya kan makin tinggi makin menurun. Nah, untuk satu waktu tertentu terjadi seperti itu,” papar Dodo.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan langit kelabu Jakarta menandakan kualitas udara yang sangat tidak sehat. Fenomena ini terjadi seminggu belakangan.

%d blogger menyukai ini: