19 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Antara Keyakinan JK dan Jejak Hitam Koruptor di Penjara

Berita ini diberdayakan untuk detik.com

Oleh : Tim detikcom – detikNews


Aksi teatrikal di depan KPK menyoroti dugaan ‘jual-beli’ sel di Lapas Sukamiskin oleh koruptor (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Jakarta – Ulah koruptor dari balik jeruji kerap menjadi sensasi. Teranyar adalah Setya Novanto yang ketahuan pelesiran hingga membuatnya dipindah ke rumah tahanan (rutan) khusus narapidana perkara terorisme di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Mulanya selepas pelesiran Novanto itu KPK ikut angkat bicara. KPK mengusulkan koruptor untuk dipindahkan saja ke Pulau Nusakambangan.

“Di bulan Juni 2019 ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan, di antaranya, pertama, usulan nama narapidana korupsi yang akan dipindahkan ke Lapas Nusakambangan,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah pada Senin, 17 Juni 2019.


Antara Keyakinan JK dan Jejak Hitam Koruptor di PenjaraWapres Jusuf Kalla (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)

Namun rupanya kelakuan ‘bandel’ Novanto disebut Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) belum tentu sama dengan koruptor-koruptor lain. “Ada satu-dua yang tidak disiplin, tapi sebagian besar disiplin,” kata JK di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Meski sebelumnya berpendapat bila tidak semua koruptor seperti Novanto, JK tetap diplomatis. Baginya, siapapun yang tidak disiplin, akan ada sanksi yang menanti.

“Yang tidak disiplinlah yang tentu ada sanksinya. Tapi kalau yang disiplin. Kan tidak semua seperti Novanto. Lebih banyak yang disiplin daripada yang tidak disiplin. Jangan disamaratakan,” imbuh JK.

Benarkah koruptor yang ‘bandel’ hanya Novanto saja?

Setidaknya kelakuan-kelakuan para koruptor di Sukamiskin terungkap dalam persidangan perkara dugaan suap pada mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husein di awal tahun ini. Misalnya tentang mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin yang diyakini jaksa KPK dalam surat dakwaannya bisa singgah di rumah mewah di kawasan Dago, Bandung.

“Saudara saksi ngontrak rumah di Dago itu untuk apa?” tanya jaksa pada Fuad yang duduk sebagai saksi dalam sidang lanjutan Wahid di Pengadilan Tipikor Bandung pada Rabu, 6 Februari 2019.

Fuad mengaku menyewa rumah itu untuk istrinya agar lebih dekat dari Lapas Sukamiskin di mana dirinya menjalani hukuman pidana. Selain itu, Fuad mengaku 2 anaknya bersekolah di Bandung.

“(Rumah di Dago) punya saudara, saya ngontrak,” jawab Fuad saat itu.


Antara Keyakinan JK dan Jejak Hitam Koruptor di PenjaraFuad Amin (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Dalam dakwaan Wahid, Fuad disebut beberapa kali mengajukan izin keluar Lapas Sukamiskin dengan alasan berobat di rumah sakit Dustira, Cimahi. Akan tetapi, Fuad menyalahgunakan izin tersebut untuk singgah di rumah mewah di Jalan H Juanda 175, Dago Bandung.

Kejadian ini disebut salah satunya terjadi pada 21 Maret 2018. Fuad menginap di rumahnya setelah keluar dari Lapas Sukamiskin menggunakan ambulans hingga RS Hermina Bandung. Setibanya di RS Hermina, Fuad pindah ke mobil lain dan pergi bermalam di rumah mewahnya.

Selain urusan itu Fuad mengakui sering memberikan fasilitas atau uang pada ajudan Wahid yang bernama Hendry Saputra. Fuad mengaku terbiasa menolong orang lain.

“Betul saya pernah ngasih Rp 5 juta (ke Hendry), tapi saya nggak inget peruntukannya untuk apa. Seinget saya cash,” kata Fuad, masih dalam sidang itu.

Bagaimana dengan kelakuan koruptor lain?

Masih dalam persidangan itu, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan mengaku sering berobat menggunakan mobil pribadi. Wawan mengklaim hal itu dibolehkan oleh Lapas Sukamiskin.

Hal itu diungkapkan Wawan dalam persidangan pada Rabu, 30 Januari 2019. Dalam persidangan itu, Wawan yang sudah sejak 2015 menghuni Lapas Sukamiskin mengaku pernah izin berobat selama 5 kali ke beberapa rumah sakit baik di Bandung maupun di luat kota.

Menurut Wawan, saat berobat ke luar kota tersebut memang menggunakan mobil pribadi. Dia mengakui awalnya dari lapas menggunakan ambulans lantas berpindah ke mobil pribadi di rumah sakit Hermina. Wawan mengatakan penggunaan mobil pribadi ini sudah biasa dilakukan dan diperbolehkan pihak lapas lantaran ketersediaan ambulans yang minim.

“Karena ambulansnya cuma satu, biasanya pakai mobil sendiri. Saya tahu ada teman berobat ke Hermina, kebetulan lewat saja jadi di situ (pindah mobil),” kata Wawan yang menambahkan bila dirinya tidak pernah memberikan uang pada pihak lapas.

Tak hanya soal pelesiran. Dalam sidang itu juga terungkap koruptor bisa memesan sel sebelum dieksekusi. Adalah Fahmi Darmawansyah–yang juga hasil jeratan KPK–mengaku membayar sel hingga Rp 700 juta kepada broker yang juga napi di Lapas Sukamiskin.

“Jadi kalau mau dapat kamar booking dulu. Dari informasi itu, mengutus orang ke Sukamiskin mengecek, ternyata benar,” ujar Fahmi dalam persidangan pada Rabu, 6 Februari 2019.

“Dari situ dikasih DP Rp 100 juta setelah itu melalui transfer Rp 600 juta. Begitu saya masuk (ke Lapas Sukamiskin) sudah dapat fasilitas,” ucap Fahmi tanpa menyebut aneka fasilitas tersebut.(dhn/idn)

%d blogger menyukai ini: