26 September 2020

timurmerdeka.com

Untuk Masyarakat Masa Depan

Kisah Brian Handika, Honorer Menyambi Loper Koran, Menang Pilkades

Berita ini diberdayakan untuk jpnn.com

jpnn.com – Brian Handika, pegawai honorer UPTD Pulung yang nyambi loper koran berhasil menarik simpati warga dan mengantarkannya menjadi Kepala Desa Sidoharjo, Pulung, Ponorogo, Jatim.

NUR WACHID, Ponorogo

PAGI itu, Aan – sapaan Brian Handika – jalan kaki dari rumahnya menuju kantor desa yang jaraknya tak lebih dari seratusan meter. Tumpeng nasi kuning berukuran sedang komplit dengan lauk tersaji di meja. Beberapa perangkat desa tampak riang menyambut kehadiran pemimpin baru kelahiran 1982 itu. ‘’April mulai pencalonan kemudian disibukkan persiapan dan lain sebagainya,’’ kata Aan.

Aan kini dinobatkan sebagai ‘’bapak’’-nya warga Sidoharjo. Kini, dia harus sabar menerima masukan dan selalu menghadirkan solusi dari tiap persoalan di desa. Tindak-tanduk harus dijaga agar senantiasa menjadi teladan bagi warganya. ‘’Memang harus menguatkan hati dan niat,’’ tuturnya.

Siapa sangka, kades terpilih dengan perolehan 862 suara dari 2.391 daftar pemilih tetap (DPT) itu merupakan loper koran Jawa Pos untuk sekolah-sekolah di Kecamatan Pulung.

Sejak 2016, Aan harus bangun pagi sebelum subuh guna mengambil koran. Setiap pagi, melahap jarak ratusan kilometer untuk mengantarkan koran ke 39 sekolah. Aktivitas itu dilakukannya hingga pukul 09.00. Setelahnya, dia berlanjut tugas ke kantor UPTD Pulung. Sejak 2008 silam, namanya tercatat sebagai pegawai honorer di sana.

Berpakaian sepatu mentereng baju rapi tak dapat menjamin kebutuhan tercukupi. Karena itu, dia mencari tambahan penghasilan sebagai loper koran. ‘’Nyambi karena faktor ekonomi. Alhamdulillah, rejeki dari loper koran ini dapat membantu mencukupi kebutuhan,’’ ungkap bapak satu anak itu.

Aan sadar banyak manfaat yang dirasakan sejak menjadi loper koran. Meskipun, dua tugas ganda itu cukup menyita energinya. Apalagi, jalan yang dikitari setiap harinya berupa tanjakan dan turunan terjal.

Medan paling esktrem saat harus menjangkau sekolah di Desa Bedrug yang melewati jalan makadam pegunungan. Jaraknya 13 kilometer dari rumahnya. ‘’Sebelumnya jarang baca koran, sejak jadi loper tiap hari selalu update informasi,’’ sambungnya.

Aan baru berhenti menjadi loper koran saat mulai disibukkan agenda pilkades. Sejak pencalonan April lalu, dia tak lagi melakukan ‘’olahraga’’ ke 39 sekolah setiap paginya. Sampai kini telah dilantik menjadi kades, keinginannya untuk mengantarkan koran masih besar. ‘’Saya pernah kehujanan dan koran harus dikeringkan sebelum diantarkan ke pelanggan,’’ kenangnya.

Sebagai nahkoda desa, Aan bersiap mengembangkan pemberdayaan masyarakatnya. Sekaligus mengedukasi tentang pentingnya transparansi anggaran. Semangat itu telah ditanam sebelum mencalonkan diri sebagai kepala desa. *** (fin)

%d blogger menyukai ini: